Menu

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Harus Nonton 8
Tidak Tertarik 0

Seorang pria bertandang ke rumah janda. Ia bukan tetangga ataupun sanak saudara. Setelah mempersilakan dirinya sendiri masuk, sang pria gondrong ini duduk bersila dan meminta si janda memasakkan jamuan. Keenam kawannya sedang dalam perjalanan dan tak lama lagi akan tiba, kata sang pria. Ia kemudian menyampaikan niat kalau mereka hendak merampok dan memperkosanya. Dengan begitu banyak tanda tanya tergambar di raut wajahnya, si janda bernama Marlina ini hanya bisa mencoba berdiri setenang mungkin sembari berstrategi. “Kau mau makan apa?” tanyanya.

Begitulah babak pertama dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dibuka. Sebuah demonstrasi yang gamblang sekaligus jenaka akan sistem sosial dimana masyarakatnya – terutama yang pria – masih beranggapan bahwa wanita adalah makhluk yang sudah kodratnya selalu pasrah. Tapi tentu saja, Marlina bukanlah wanita itu. Babak ini diakhiri dengan Marlina (Marsha Timothy) yang berhasil memenggal kepala sang pria gondrong, Markus (Egi Fedly), ditengah-tengah ia menyetubuhinya, dan meracuni sampai mati keempat perampok lainnya. Sementara yang dua, lepas gara-gara sudah terlanjur diperintahkan untuk mengangkut hasil rampokan ke kota. Sudah kentara sejak awal, bahwa Mouly Surya hendak memposisikan Marlina sebagai perwujudan dari sesosok wanita yang – setelah menyadri akan nilai-nilai dan kekuatan yang ia punya – memutuskan mengambil kontrol akan nasibnya sendiri di tengah dominasi pria. Maka, kendati harta dan martabatnya sudah terenggut, di babak pertama ini, Marlina sah kalau mau dianggap pemenang lantaran sanggup mempertahankan nyawanya. Satu lawan lima.

Pemilihan waktu dari kejadian traumatik ini tidak bisa jatuh di saat yang lebih buruk lagi dalam hidup Marlina. Saat ini ia sedang dirundung duka. Suaminya baru saja meninggal dunia, tapi ia tak punya cukup biaya untuk secara layak menguburnya. Maka jadilah, mumi suaminya masih terduduk di sebuah sudut ruang tengah rumahnya. Sebuah setting yang begitu memilukan, ketika Marlina harus menerima semua perlakuan tak pantas itu dihadapan sang suami – sosok pelindung istri – yang kini sudah tak bernyawa. Sebuah situasi yang, ironisnya, juga bekerja sebagai sindiran tentang realitas ekonomi masyarakat miskin dimana kematian bukanlah titik akhir dari sebuah kesusahan.

Dengan tokoh utama yang seorang penyendiri, lanskap Sumba berupa hamparan sabana dan tatanan masyarakat yang seolah berjarak dengan hukum, maka tak afdal apabila Surya tidak memilih untuk membungkus film yang ide ceritanya dicetuskan oleh Garin Nugroho ini dengan genre western. Ditopang dengan elemen kearifan lokal yang amat kental, maka genre ini pun berevolusi jadi apa yang kemudian disebut sebagai satay western – entah dari mana asalnya, tapi memang ada adegan Marlina makan sate. Unsur-unsur seperti kekerasan, perampokan oleh kawanan bandit, perjalanan panjang menggunakan kuda (meski ada penampakan signifikan dari motor dan truk), jelas masih dipertahankan demi memenuhi syarat wajib genre ini. Tapi, yang kemudian unik dari film ini, adalah bagaimana ia cekatan mengolah sebuah genre yang amat lekat dengan sebuah kultur (koboi) dan kedaerahan yang spesifik (American Old West), dan menjadikannya tampak natural dan padu bila diterapkan dengan kultur dan daerah yang dipakai sebagai latar. Dua lini yang paling berjasa dalam terciptanya hal ini adalah, pertama, kerja sinematografi Yunus Pasolang yang memotret cantik nan luasnya padang rumput Sumba jadi begitu mengalienasi, dan kedua, scoring musik gubahan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan bunyi-bunyiannya yang begitu distingtif dan mudah melekat, sampai-sampai bisa dianggap sebagai karakter tersendiri.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah tentang bagaimana wanita, sebagaimanapun sudah muaknya, mau tak mau tetap harus menghadapi segala macam tai di dunia lelaki. Seperti yang sudah diindikasikan dari judulnya, film ini dipartisi jadi empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth. Menarik ketika Surya melabeli babak ketiga, yang mengisahkan saat Marlina berada di kantor polisi untuk melaporkan tindak kriminal yang baru saja ia alami dan pembunuhan  yang baru saja ia perbuat atas nama pembelaan diri, dengan judul “The Confession.” Padahal sebelumnya, seorang wanita hamil bernama Novi (Dea Panendra) yang ia temui dalam babak The Journey, menyarankannya, alih-alih ke kantor polisi, lebih baik ia menemui pastur untuk mengaku dosa. Sedikit tersinggung dengan advis dan pemilihan katanya, ia pun dengan tegas menolak untuk menganggap kalau apa yang ia perbuat ini adalah dosa.

Pengakuan yang ia sampaikan pada pihak yang ia harapkan bisa memberikan rasa aman ini nyatanya malah membuat Marlina tambah gondok. Saya pun merasa miris tatkala mendengar reaksi yang diberikan polisi atas laporan yang diberikan Marlina. Miris, karena seketika saya menyadari betapa rape culture, atau keadaan dimana tindak kekerasan seksual sudah dinormalisasi sedemikian rupa dan masyarakat cenderung menyalahkan sang korban atas tindak kekerasan seksual yang diterimanya, tak sulit dijumpai di kehidupan sehari-hari. Saat mencoba untuk mengulik informasi yang lebih rinci, pada satu titik si interogator berkomentar: “Kalau dia jelek, lalu kenapa kau biarkan dia perkosa kau?” Yang kemudian mengikuti, adalah reaksi sempurna sebagai bagian dari performa bintang lima yang dihantarkan Timothy. Setelah pause sejenak, ia (hampir) breaking the 4th wall dan seolah-olah hendak berkata, “are you fucking kidding me?!” Sayangnya Marlina ini bukanlah mbak-mbak perkantoran Gatsu yang kalau ngobrol suka bilingual nanggung.

Bagi saya, The Confession juga memuat adegan terkocak dalam film ini, karena keidentikan situasi yang pernah saya alami sendiri. Sesampainya di kantor polisi, melalui sebuah medium shot, diperlihatkan Marlina tengah duduk menunggu untuk dilayani. Cut to sudut kamera yang lebih luas, Marlina duduk menunggu untuk dilayani, dengan diapit foreground dua polisi di ujung kanan dan kiri frame, yang sedang bertanding ping-pong. Kejadian yang persis pernah saya alami, ketika dulu harus menunggu lama untuk mengurus suatu perkara di gedung DPRD kota asal, hanya untuk menyaksikan pegawai negara asyik bermain ping-pong, jam 10 pagi. Maka bagi saya, bila ada satu hal yang Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak sukses perbuat, adalah makin mengukuhkan bahwa ping-pong – tanpa mengurangi rasa hormat pada pecinta olahraga ini – akan selamanya terasosiasi dengan pelayanan birokrasi yang kacrut.