Menu

Posesif

Harus Nonton 25
Tidak Tertarik 0

Remaja adalah makhluk yang sama sekali tidak sederhana. Tapi bagi kebanyakan orang dewasa – yang, ironisnya, merupakan mantan remaja – dunia remaja dan segala problematikanya acap kali dianggap dan diperlakukan sebagai perkara yang remeh-temeh. Trivial, bahkan. Begitu pula kasusnya pada kecenderungan pengkarakterisasian remaja dalam sinema. Kebanyakan masih menampilkan mereka sebagai karikatur yang minim kompleksitas manusia bernyawa. Kalau mau diurut, salah satu penyebabnya adalah karena isu keremajaan yang coba diangkat sebagai pokok cerita, terutama apabila film tersebut berbentuk romansa, banyak yang main aman dan hanya berkutat disitu-situ saja. Mereka mengendap-endap menghindari teritori yang dianggap sensitif dan berbahaya. Mereka seolah mau meyakinkan kalau percintaan remaja isinya bunga-bunga dan warna ceria saja.

“Loh, tapi kan film macam itu memang dibuat dengan tujuan sebagai sebuah hiburan yang ringan. Toh sudah ada pasarnya juga,” kata pemrotes imajiner di satu sudut pikiran saya. Argumen itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah juga. Tapi, kalau kelak bertemu orang di dunia nyata yang melancarkan argumen serupa, ingin rasanya langsung saya sodorkan film Posesif sebagai sebuah bentuk respon yang tak hanya konkret, tapi juga lantang. Film yang bisa diibaratkan sebagai titik pertemuan yang adil, dimana upaya untuk membuka wacana yang penting serta membangun karakter remaja yang kompleks nyatanya tidak perlu mengorbankan jalan cerita yang enak diikuti.

Posesif adalah film panjang Edwin yang paling bersahabat untuk penonton awam. Sesederhana karena film ini mempekerjakan plot yang progresif dan mudah dicerna. Kontras dengan dua film panjang Edwin terdahulu, Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo, yang lebih menonjolkan perasaan-perasaan abstrak, tidak lancar bercerita secara naratif dan banyak ditemukan pelanggaran cara berkisah yang normal dengan absennya hubungan sebab-akibat yang jelas. Posesif adalah film pertama Edwin dimana interelasi antarkarakter jadi sumber energi jalannya cerita. Kendati demikian, Edwin melakukan hal tersebut tanpa harus menghilangkan kesan puitis yang kental ada di dua film sebelumnya.

Sebagai sebuah film romansa, Posesif dibungkus Edwin dengan sentuhan suspense, mengulik bagaimana keluguan cinta pertama bisa menggiring pihak yang terlibat di dalamnya ke sebuah sudut yang kelam. Ketika rasa memiliki mulai rancu dan kontrol terhadap diri sendiri belum dikuasai secara utuh. Keputusan untuk membubuhkan elemen suspense disini bukanlah sebuah aksi gaya-gayaan semata. Pun bukan pula supaya film ini nantinya berhak mengklaim gelar sebagai film yang memiliki “tema berbeda dari lainnya.” Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya. Begitu bunyi tagline-nya. Dan benar saja, kalau diresapi, kalimat tersebut memang bisa dimaknai sebagai sebuah pertanda akan sesuatu yang mengerikan. Bahwasannya, rasa ingin memiliki adalah salah satu nafsu dasar paling buas yang bisa jadi pendorong untuk seseorang melakukan hal-hal di luar batas kewajaran.

Lala (si debutan Putri Marino) mendapatkan kontak langsung perdananya dengan Yudhis (Adipati Dolken) saat ia sedang menjalani ujian susulan di ruang guru dan Yudhis sedang menyelinap untuk mengambil sepatunya yang disita. Yudhis adalah anak baru di sekolah, ia charming dan penuh percaya diri. Sedangkan Lala, meskipun ia terbilang cantik dan berprestasi, bukanlah tipe siswi yang menonjol di kerumunan. Tanpa banyak babibu, setelah berkenalan, di hari itu juga, Yudhis langsung mengajak Lala berkencan. “Gue nggak terlalu nekat, kan?” tanya Yudhis ragu. “Ya gimana ya, Dhis, lumayan sih,” jawabku dalam hati sebagai juru bicara Lala.

Semuanya manis dan berjalan baik-baik saja, hingga jadwal latihan Lala sebagai atlet loncat indah mulai mengambil alih waktu kebersamaannya dengan Yudhis. Yudhis pun terusik dengan situasi ini. Ia tidak terima kalau Lala merenggut rasa nyaman yang ia dapat dari kebersamaan keduanya yang intens selama ini. Bagaimana proses perubahan perangai dan fluktuasi emosi yang dialami Yudhis selama fase ini sungguh ngeri dan mencengangkan, sampai-sampai menakjubkan. Ia manipulatif dan intimidatif, menciptakan ketidaknyamanan yang mampu mengubah rasa takut Lala menjadi kebungkaman. Bahkan ada satu titik dimana Lala yang justru merasa bersalah ketika Yudhis marah dan lepas kontrol. Edwin juga menyelipkan bagaimana dinamika politik seksual bekerja dalam hubungan ini, melibatkan manipulasi dan pelecehan sebagai alat kekuasaan. Dan seketika kita pun sadar, lepas dari apakah mereka benar-benar jatuh cinta atau sekedar euforia, keduanya racun jika bersama.

Film ini kemudian jadi penting untuk ditonton bagi anak muda dan orang tua, khususnya remaja putri, untuk membantu meningkatkan kesadaraan akan isu kekerasan dalam hubungan. Serta memberi pemahaman bahwasannya, yang masuk dalam kategori “kekerasan” dalam satu hubungan tak melulu berbentuk fisik, tapi justru lebih sering berbentuk verbal dan bersifat psikologis.

Sejujurnya, rasa skeptis sempat menghinggapi saat tau keterlibatan Dolken dalam film yang, pada saat itu, disebut sebagai “film komersil pertama Edwin.” Padahal dimana-mana, sudah lumrah bagi aktor untuk memainkan peran yang tidak sesuai dengan usia asli mereka. Tapi ayolah, anak SMA mana sih yang punya raga dan rupa seperti Dolken yang berusia 26 tahun? Tapi kemudian saya ingat, bahkan Ernest Prakasa saja juga dipercaya jadi anak SMA dalam Stip & Pensil, jadi ya sudah lah.

Maka sungguh terperangah ketika yang saya dapatkan justru adalah sebuah penampilan tour de force yang disuguhkan Dolken dan diimbangi dengan penafsiran tokoh yang dalam dan bijaksana oleh Marino, seketika menangkis semua keraguan konyol itu. Marino memerankan Lala sebagai protagonis yang kita andalkan, dari luar tampak seperti seseorang yang tenang dan dikuasai oleh akal sehat, namun tak tahu bagaimana harus menavigasikan diri dalam situasi yang sepenuhnya asing baginya. Dan dimainkan dengan rentang emosi yang luar biasa luas oleh Dolken, Yudhis adalah karakter yang akan membuatmu jijik dan mengutuk perilaku liciknya, namun perlahan-lahan, tanpa sepenuhnya kamu sadari, ia juga akan membuatmu bersimpati dan kasihan pada kemalangan kondisinya. Yudhis merupakan salah satu karakter paling nyata, rumit dan berkesan yang ada di film Indonesia tahun ini.

Satu hal yang saya sadari juga tak kalah mengesankan dari film ini, adalah kemampuan Edwin dalam menampilkan naik-turun dan senang-sedih dunia remaja Lala-Yudhis, tapi dengan selalu menjaga suasana hati film tetap kelam setiap waktu. Naskah yang ditulis oleh Gina S. Noer pun kaya akan detail dan piawai dalam menggiring arus konflik menuju momen-momen pengungkapan yang sudah bisa diprediksi akan terjadi, tapi anehnya tetap memiliki efek kejut. Tanpa mau membocorkan terlalu banyak informasi, salah satu momen pengungkapan kunci melibatkan Cut Mini sebagai ibu Yudhis, dalam penampilan yang, meskipun singkat, sekali lagi membuktikan kenapa ia adalah salah satu yang terbaik di industri ini.

Mengalami punya pacar pertama saat masih sekolah adalah tentang obsesi. Obsesi akan gagasan bahwa, untuk pertama kalinya, kamu memiliki orang lain. Obsesi akan ketersediaan afeksi yang datangnya selain dari ayah bunda. Obsesi akan sebuah intimasi yang (idealnya) eksklusif diberikan pasanganmu hanya untukmu saja. Dan buktikanlah dalam Posesif, bahwa setinggi-tingginya level intimasi adalah sing along adu fals bersama saat sebuah lagu pop klasik diputar di radio.