Menu

Berangkat!

Harus Nonton 2
Tidak Tertarik 0

Berangkat! tancap gas dengan begitu meyakinkan di kilometer awal perjalanannya, sehingga sebagai penumpang, kita pun dibuat yakin bahwa kita sedang berada di jalur yang benar untuk mencapai tujuan akhir yang, semoga saja, memuaskan. Film dibuka Naya Anindita dengan memperkenalkan tiga tokoh utamanya; Jano (Tarra Budiman), Joana (Ayushita) dan Dika (Ringgo Agus Rahman) dengan gaya dan pendekatan yang ceria, sederhana, tapi sulit untuk ditolak. Memiliki tampilan dan set dekorasi berestetika Filosofi Kopi x Galih & Ratna versi traveller, Berangkat! berpotensi jadi sebuah cerminan dari tata laku anak muda kalangan menengah perkotaan, dilihat dari bagaimana para karakter dalam film ini saling berinteraksi.

Introduksi terjadi di Toko Musik Aksara, titik temu reguler ketiganya sekaligus tempat Jano bekerja paruh waktu. Dengan niat melakukan penelitian geologi untuk keperluan mendaftar S2 di Columbia University, Joana memiliki rencana untuk melakukan perjalanan ke Kawah Ijen melalui jalur darat bersama dengan Dika. Keduanya pun getol membujuk Jano untuk ikut serta dalam perjalanan ini, karena mereka pikir ini akan jadi pengalaman dan perjalanan yang menyenangkan. Namun, karena alasan finansial yang sedang sesak, Jano sangsi menerima ajakan ini. Hingga masuklah Kayla (Annisa Pagih) ke Aksara untuk menitipkan poster konser yang tengah ia organisir. Sebagai ucapan terima kasih karena bersedia membantunya, Kayla pun memberikan 3 tiket gratis pada Jano dan mengundangnya untuk datang ke Bali. Seketika keraguan Jano pun sirna, dan berangkatlah mereka.

Terdapat sebuah sekuens kocak di bagian awal dimana Dika mereka ulang sebuah percakapan yang dilakukan Joana dengan dua orang wanita di sebuah toilet umum beberapa hari sebelumnya. Dengan pengadeganan yang luwes dan penyuntingan gambar yang tepat guna, scene ini merupakan salah satu highlight di paruh awal film dan seolah memberikan janji akan jadi film seperti apa Berangkat! ini kebelakangnya. Tapi, bak Pilkada, janji tinggallah janji. Terhitung sejak ketiga karakter ini menyewa sebuah VW Combi untuk mengarungi pulau Jawa ke arah timur, Anindita tergoda untuk berbelok ke jalur yang, katanya, menjanjikan pemandangan lebih indah, hanya untuk mendapati ternyata sedang ada perbaikan jalan, sehingga ujung-ujungnya, tak hanya sampainya lebih lama, tapi juga jadi tidak terlalu bisa dinikmati.

Sampai dengan titik ini, sudah ada beberapa poin pertaruhan yang dibangun: anggaran perjalanan yang pas-pasan, tenggat waktu pengumpulan syarat pendaftaran S2, dan harus sampai di Bali tepat waktu untu bertemu Kayla. Namun, alih-alih membawa arah filmnya dengan basis pertimbangan pertaruhan-pertaruhan tersebut, Anindita malah lebih memilih menempatkan karakter-karakternya dalam situasi yang memungkinkan dirinya untuk bisa bermain-main dan mengeksplor gaya penciptaan scene yang beragam. Ambil contoh sebuah sekuens saat mereka singgah di sebuah pantai rahasia, dan berujung mabok mushroom dengan dua petugas kepolisian. Atau saat mereka menyambangi markas mafia underground untuk mengambil tas kamera berisi materi gambar dari Kawah Ijen milik Joana yang tidak sengaja terbawa oleh mereka. Episode-episode yang bisa diibaratkan sebagai persinggahan tak perlu yang dilakukan oleh pemandu jalan ketika penumpang sudah lelah dan ingin cepat-cepat sampai tujuan.

Setelah terlibat dalam sebuah aksi baku tembak antara mafia dan polisi, mereka pun berhasil mendapatkan kembali tas kamera, dan Joana pun sukses diterima S2. Namun sampai pada titik ini, saya sudah tidak lagi peduli dengan alasan kenapa Jano mau ikut dalam perjalanan ini.

Kendati demikian, harus diakui bahwa Anindita memang jago dalam memotret keintiman dalam sebuah hubungan persahabatan. Seperti yang pernah ia lakukan dalam Sundul Gan: The Story of Kaskus, ia tau betul untuk memunculkan kesan relasi pertemanan yang lekat itu tak melulu harus dengan dinamika hubungan yang meletup-letup secara drastis. Ia kerap membuat karakter-karakternya saling tukar dialog dengan cara yang sangat organik, terlibat adu mulut yang berujung pada perselisihan, kemudian berekonsiliasi dengan cara yang sederhana. Ringgo Agus Rahman dan Ayushita, terutama, melakukan hal ini dengan tingkat ketenangan yang pas, luwes dan amat meyakinkan. Tarra Budiman, di lain sisi, meskipun terlihat usahanya untuk lebih direken sebagai seorang aktor ketimbang tv personality, ia masih belum bisa memberikan performa yang konsisten dan memunculkan dimensi berlapis pada karakter Jano.

Di film panjang keduanya ini, Anindita, seorang visualist berbakat, nyatanya masih mengulang apa yang membuat film pertamanya tidak terlalu bekerja dari segi penceritaan. Ia terasa masih mencondongkan perhatiannya pada bagaimana agar film ini tampil cantik atau edgy atau berbeda dari segi kemasan. Dan agak melupakan bahwa ada manusia-manusia yang mendiami film ini yang kisahnya hendak diceritakan.