Menu

Valerian and the City of a Thousand Planets

Harus Nonton 3
Tidak Tertarik 0

Diadaptasi dari buku komik Perancis bertajuk Valerian and Laureline karangan Pierre Christin dan Jean-Claude Mezieres – yang oleh sebagian orang dipercaya juga memberi pengaruh pada Star Wars – Luc Besson menciptakan Valerian and the City of a Thousand Planets sebagai sebuah film space opera untuk generasi millenial. Dibintangi oleh Dane DeHaan sebagai Valerian dan ratu media sosial Cara Delevingne sebagai partnernya, Laureline, Valerian and the City of a Thousand Planets menampilkan salah satu desain produksi dan penciptaan dunia paling impresif dalam film-film keluaran 2017 sejauh ini. Tidak ada satu scene pun di film ini yang tidak memuat sajian visual yang layak dikagumi, baik itu berupa makhluk aneh berbentuk nyentrik, desain kostum yang extravaganza, maupun sekedar detil-detil kecil yang ditempatkan di sudut-sudut frame. Ini merupakan film yang dipenuhi oleh semangat, keseruan, humor, dan begitu banyak imaji tak terlupakan yang bisa saja membuat beberapa penonton kewalahan karena, terkadang, ada perasaan bahwa semua hal tersebut tidak mampu tertampung dalam satu frame di waktu yang bersamaan.

Ambil contoh sekuens pembuka yang berlatarkan di sebuah planet yang level keindahan bentang pantainya belasan kali lebih tinggi dibandingkan Bora Bora. Dalam sekuens ini Besson bertumpu penuh pada bagaimana kuatnya gambar bercerita, ketika ia mampu membangun sebuah dunia yang solid. Sehingga, meskipun ada dialog dalam bahasa alien yang tidak disertai dengan terjemahannya, penonton pun tidak akan menemui masalah dalam memahaminya. Planet ini dihuni oleh makhluk yang memiliki postur bak peragawati, menghasilkan komoditas berupa mutiara dan hidup seekor Mül Converter, makhluk yang wujudnya gabungan antara tikus dan buah salak yang mampu melipatgandakan apa saja yang ia makan. Pada suatu pagi, mereka memulai hari dengan bahagia, berlari-larian di tepi pantai dan tertawa lepas, sebelum sebuah bencana besar meluluhlantakkan planet mereka.

Percepat beberapa puluh tahun kemudian di abad ke-28, Valerian dan Laureline sedang berjemur di tepi pantai-pantaian yang direka di sebuah ruangan di kapal luar angkasa yang mereka awaki. Keduanya sama-sama bekerja untuk pemerintah sebagai pemberantas tindak kriminal, dan tengah diutus ke Big Market, sebuah pasar virtual-reality dimana toko dan penjualnya hanya bisa dilihat setelah pengunjung memakai perlengkapan khusus, untuk menyelamatkan Mül Converter yang hendak diperjualbelikan secara ilegal. Lagi-lagi, seperti yang bisa diharapkan dari sutradara The Fifth Element dan Lucy, sekuens ini menampilkan ramuan mantap yang menggabungkan antara keseruan, kemegahan, keanehan, dengan bonus sejumput adegan tak terduga yang bikin puas dan berdecak kagum. Besson berhasil menghidupkan sebuah gagasan adegan aksi yang menantang, dimana dua karakter utama mendiami satu ruang yang sama namun mengalami dua pengalaman yang berbeda. Salah-salah, ide ini bisa berakhir hanya sebagai keren-kerenan saja karena konsepnya yang mutakhir, namun Besson mengeksekusinya dengan humor dan ketelitian yang tinggi sehingga saat menontonnya kita mendapatkan sensasi seperti sedang membaca komik, alih-alih menyaksikan komik yang difilmkan.

Setelah berhasil merebut kembali Mül Converter, Valerian dan Laureline kembali ke Alpha, sebuah stasiun luar angkasa internasional yang kini berubah menjadi rumah bagi ribuan spesies alien dari berbagai penjuru semesta. Sesampainya di Alpha, mereka mendapati bahwa keberadaan Alpha tengah terancam gara-gara digerogoti dari dalam, dan Valerian dan Laureline pun ditugaskan untuk mengusut kasus ini sampai keakar-akarnya sebelum terlambat. Mereka kemudian mengungkap sebuah konspirasi besar yang dilakukan pemerintah yang melibatkan para aparat dengan jabatan tinggi. Di sela-sela menjalankan tugas, Valerian dan Laureline kerap terlibat dalam aksi saling goda, dimana pada satu titik Valerian melamar Laureline agar mau menikah dengannya. Untuk urusan romansa, mereka adalah duo yang aneh, bahkan cenderung tidak serasi. Namun keanehan ini lah yang, anehnya, justru membuat keduanya enak disaksikan.

Sebelumnya sudah disinggung kalau film ini penuh dengan keanehan. Namun belum lengkaplah itu keanehan sebelum munculnya Rihanna sebagai penari erotis yang bisa berubah bentuk bernama Bubble. Oh, dan ada pula musisi Herbie Hancock yang hanya muncul via videocall sebagai atasan Valerian. Dan untuk menutup itu semua, mengingat fakta bahwa Laureline memiliki screentime yang sama dominannya – belum lagi jasanya dalam menyelamatkan nyawa Valerian dalam salah satu adegan – adalah pertanyaan kenapa hanya nama Valerian yang akhirnya disematkan pada judul final film ini?