Menu

Sweet 20

Harus Nonton 10
Tidak Tertarik 0

Sweet 20 arahan Ody C. Harahap adalah tipe film komedi romantis ringan yang merupakan spesies langka yang keberadaannya terancam punah dalam peta perfilman Indonesia. Film yang dibangun sepenuhnya oleh fantasi, kontra dengan semua akal sehat yang ada, dan membangun semesta dimana unsur-unsur budaya pop yang sempat trendy 50 tahun lalu dihadirkan kembali dengan sentuhan modern yang penuh keceriaan. Dipasarkan dengan label Film Lebaran 2017, tidak merugikan juga tatkala Sweet 20 memiliki aktris muda cantik yang senyumannya bisa membuat sebuah close-up shot luar biasa bikin kaki lemas sebagai bintang utamanya. Dengan mengenakan riasan dan busana serba vintage, ia berlenggak-lenggok centil mendendangkan Payung Fantasi sembari membuktikan kalau ia tak pernah tenggelam saat harus berbagi layar dengan Slamet Rahardjo. Kalau Sweet 20 tidak berhasil mengangkat kelas Tatjana Saphira sebagai bintang film, maka entah film apa yang bisa.

Saphira memerankan Fatmawati, nenek bawel berusia 70 tahun yang, setelah dipotret oleh Henky Solaiman di sebuah studio foto antik, secara ajaib fisiknya berubah menjadi lebih muda 50 tahun. Fatmawati versi tua, diperankan oleh Niniek L. Karim, tinggal bersama anaknya Adit (Lukman Sardi), menantunya Salma (Cut Mini) dan kedua cucunya (Kevin Julio & Alexa Keys). Sebagai sesepuh, tak banyak kegiatan yang menghiasi kesehariannya, selain mengikuti sebuah kelas dansa dan bolak-balik ke toko sepatu hanya untuk menanyakan harga tanpa pernah membelinya. Maka – kendati sebenarnya intensinya baik – waktu dan energinya pun lebih banyak tercurahkan untuk mengurusi, atau lebih tepatnya merecoki, segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Korban utama dari tabiatnya ini, tentu saja adalah sang menantu. Sekalipun karakternya tidak diulik lebih dalam, namun saya yakin penampilan Mini disini bisa membuat para menantu-menantu di luar sana yang juga hidup satu atap bersama mertua yang dominan menjadi simpati dengan keadaannya. Pada suatu hari, terjadilah sebuah insiden yang menimpa Salma, yang membuat keluarga ini mengalami goncangan, dan berujung pada munculnya opsi untuk merelokasi Fatmawati ke panti jompo.

Mungkin bukanlah berita lagi bagi kebanyakan orang kalau sekarang saya katakan bahwa Sweet 20 ini merupakan buat ulang dari film komedi hit asal Korea, Miss Granny. Dan kendati dari garis besar penceritaannya tidak dibuat jauh berbeda dari film aslinya (ditambah lagi dalam beberapa scene penting pengadeganannya dibuat hampir identik), Sweet 20 adalah contoh sebuah film remake yang solid, berkat berbagai pilihan mantap, detil, dan distingtif yang dibuat oleh Harahap sebagai sutradara. Ditulis naskahnya oleh Upi, film ini pun mewarisi hati dan jantung dari film orisinalnya, yaitu sebuah kisah tentang bagaimana mimpi dan ambisi pribadi yang terkadang harus dikorbankan untuk bisa melakukan fungsi yang maksimal sebagai orang tua. Maka remuklah hati Fatmawati saat tau anak satu-satunya yang ia besarkan secara solo sedang mempertimbangkan kemungkinan dirinya untuk diurus oleh orang asing di hari tuanya.

Film ini juga jahil mencolek-colek kemungkinan tentang bagaimana rasanya mengulang lagi masa muda. Meskipun salah satu resikonya adalah ditaksir oleh cucumu sendiri. Setelah berhasil mengendalikan kekagetan sekaligus kegirangannya saat tau tubuhnya kembali seperti gadis lagi, Fatmawati memutuskan untuk indekos di rumah satu-satunya teman yang ia percaya, Hamzah (Rahardjo), yang sejak dulu mencinati Fatmawati lebih dari sekedar teman. Dengan mengadopsi identitas baru, Mieke Wijaya – yang tentu tidak perlu dijelaskan lagi dari mana nama itu ia comot – ia pun menggabungkan ilmu dan pengalamannya sebagai orang tua, dengan semangat dan bakat yang ia miliki sejak muda, untuk, paling tidak, mencicipi apa yang mungkin saja ia bisa dapatkan dulu kalau saja kenyataan hidup tidak mengintervensi. Dan untuk bisa melakukan hal itu, ia pun sepakat untuk membantu band amburadul yang digawangi oleh cucu kesayangannya, Juna (Julio), agar musik mereka bisa dan layak didengar oleh khalayak.

Sumber kegembiraan dan momen-momen berkesan dalam Sweet 20, sebagian besar tercipta dari bagaimana Fatmawati, melalui sosok Mieke, berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya sebelum mereka mengetahui bahwa ia adalah Fatmawati. Perhatian yang Saphira berikan dalam detil gerak-geriknya saat memainkan Mieke, yang notabene merupakan seorang wanita berusia 70 tahun, amatlah impresif. Terutama saat ia keceplosan melontarkan celetukan dan nasihat klise khas orang tua, digabungkan dengan tampilan fisik Saphira yang youthful dan reaksi kebingungan lawan bicaranya, momen macam itu hampir tak pernah gagal membuat geli.

Yang tak kalah juga bikin geli, adalah bagaimana film ini dengan entengnya mengolok-olok industri pertelevisian. Hal ini bisa dibilang merupakan salah satu unsur pembeda yang cukup fundamental bila mau membandingkan Sweet 20 dengan Miss Granny, maupun remake-remake-nya dari negara lain. Dikisahkan, setelah Mieke  memermak Juna cs. menjadi band dengan tampilan dan musik retro, mereka dengan mudahnya mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara televisi berformat Inbox yang diproduseri oleh Alan (Morgan Oey). Dari proses audisi yang mereka lalui, tersirat betapa rendahnya standar yang ditetapkan oleh televisi untuk sebuah bakat agar bisa tampil dalam salah satu acara mereka sebagai headliners. Mieke bisa bernyanyi, Juna bisa bermain gitar, tapi terasa jelas bahwa tak ada alasan lain selain kecantikan tiada ampun si lead vocalist sehingga membuat Alan tak pikir panjang untuk meloloskannya. Karena sebagai orang awam, aku dan kamu pun akan dengan mudah bisa tau, kalau band ini tidak akan punya umur panjang.

Tak hanya acara musik, sinetron pun tak luput jadi materi bercandaan. Mulai dari yang terang-terangan mengkritik, yaitu saat Mieke dan Hamzah mengeluhkan konyolnya penundaan pemberian informasi yang berkepanjangan sehingga menyebabkan membengkaknya jumlah episode hingga ribuan. Sampai yang lebih subtil tapi tak kalah centil dalam menyentil, yaitu dengan memakai unsur yang kerap dipakai di sinetron-sinetron remaja, dan menjadikannya sebagai salah satu alat untuk menyampaikan guyonan di salah satu scene. Adalah saat Mieke dan Juna makan malam untuk pertama kalinya. Perhatikan bagaimana musik latar dalam scene ini dimanfaatkan, mulai dari jenis instrumennya, hingga bagaimana musik tersebut disunting sehingga terdengar seolah sedang berdansa dengan dialog untuk menciptakan momen komedik. Pilihan-pilihan sederhana ini lah yang sukses membuat Sweet 20 menjadi film remake yang tak hanya punya keunikan, tapi juga kepekaan sosial budaya.

Saya berharap Sweet 20 ditonton oleh banyak kalangan, termasuk para pekerja televisi hiburan Indonesia. Karena kalau mereka peka, seharusnya film ini bisa menyindir dan membuat mereka belajar darinya, bahwasanya supaya tidak punah, menyadur atau mengadaptasi tu sah-sah saja, tapi mbok ya kreativitas tu jangan dibiarkan tumpul tak terasah, apalagi sengaja ditinggal di rumah.