Menu

Dear Nathan

Harus Nonton 42
Tidak Tertarik 1

Merupakan hal yang lumrah dalam film drama romansa remaja SMA, ketika suguhan utama yang berupa percintaan antar dua sejoli dengan segala dinamikanya, disisipi dengan drama keluarga, yang biasanya, memiliki fungsi kalau tidak untuk mempertajam penokohan, ya untuk memperumit konflik. Masalah keluarga yang mewarnai Dear Nathan – kendati berfungsi sebagai dua hal tersebut – disikapi sebagai sebuah realita hidup yang benar-benar dialami karakternya. Sehingga, mau semanis apapun rasa yang dikecap dari kisah romansanya, realita tersebut akan selalu ada, suka tidak suka. Satu hal yang begitu impresif dilakukan oleh film arahan Indra Gunawan ini adalah, meskipun problema keluarga belum berdiri di muka hingga pertengahan film, kemunculannya tidak pernah terasa mendadak atau tergesa-gesa, karena, meskipun tidak secara gamblang diutarakan, kita seperti sudah bisa merasakan ada duka yang membebani karakter ini sejak pertama kali kita dipertemukan olehnya.

Karakter ini adalah Nathan, diperankan oleh Jefri Nichol (satu dari empat bersaudara dalam Pertaruhan), sebagai seorang murid SMA yang populer di kalangan guru BP karena hobi berkelahi. Tapi usut punya usut, alasan dibalik hobinya ini ternyata bisa dibilang (terlalu) heroik. Yang ia ladeni untuk jadi lawan berkelahi hanyalah para bully dan orang-orang penindas kaum yang lebih lemah. Nathan pertama kali berkenalan dengan Salma (Amanda Rawles) di suatu Senin pagi, setelah ia melancarkan sebuah ledekan bernada melecehkan wanita saat Salma tidak bisa melewati pagar sekolah karena datang terlambat. Tentu saja, Salma adalah murid baru dan tak familiar dengan reputasi Nathan. Maka saat ia melihat ada luka segar terbeset di pelipis Nathan, ia pun segera menempelkan plester dan kontan membuat Nathan terpana. Usai menonton Dear Nathan, adegan ini cukup lama tinggal dalam pikiran saya. Terutama bagaimana tatapan Nathan yang perlahan berubah saat Salma melekatkan plester di pelipisnya. Dan ketika saya mengurutkan lagi alur cerita film ini dari awal hingga akhir, saya baru sadar kalau apa yang terjadi di pertemuan awal itu merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah adolescence romance yang berhasil ditangkap oleh film ini: bahwa ketertarikan awal biasanya muncul karena telah bertemunya dengan seseorang yang merupakan perwujudan dari idealisme yang selama ini diimpikan, alih-alih karena nafsu maupun gejolak hormon. Di momen itu, Nathan akhirnya menemukan seseorang yang mampu melihatnya sebagai manusia biasa yang bisa terluka dan butuh pertolongan, baik secara fisik maupun emosional.

Setelah tau kalau Nathan gemar adu jotos dan tau kalau ia naksir padanya, insting Salma sebagai siswi teladan mengatakan agar ia menjauhi Nathan. Tapi berkat adanya Rahma si makcomblang (Diandra Agatha), Nathan pun sedikit terbantu untuk bisa mendekati Salma. Beberapa kali, Dear Nathan memperlihatkan tokoh wanita mudanya beropini tegas terhadap ihwal yang kebanyakan orang anggap sebagai sesuatu yang wajar, karena dari luar terlihat sebagai sesuatu yang “baik-baik saja.” Salma diperlihatkan menolak untuk diantar pulang dengan alasan sesederhana karena ia tak suka ada orang lain yang mengatur pilihannya. Rahma pun tak mau kalah, di satu kesempatan saat ia adu argumen dengan Afifah (Beby Tsabina) yang sok suci dan berpikiran sempit, ia menutupnya dengan sebuah pernyataan yang mengimplikasikan bahwa kerap kali, reputasi positif sebuah organisasi dipakai oleh anggotanya sendiri hanya sebagai kover untuk berbagai macam kemunafikan yang ada. And I was like, yeah girl high five!

Berbagai usaha yang dilancarkan oleh Nathan yang gigih dan tidak suka basa-basi untuk mendekati Salma yang malu-malu mau, menciptakan momen-momen manis yang cukup banyak untuk membuat penontonnya tetap anteng dan cenderung permisif terhadap segala keklisean yang tak terhindarkan dari cerita macam ini. Sebut saja seperti kekagetan yang dipertegas dengan piring jatuh atau sosok cowok kakak kelas sempurna yang ternyata suka menghakimi orang lain hanya dari tampilan luarnya saja atau kenapa mereka harus menyusuri jembatan Transjakarta padahal jelas-jelas setelahnya mereka mengendarai sepeda motor. Tapi ya kalau memang dik Salma maunya ditembak Nathan dengan background Patung Selamat Datang, mas bisa bilang apa?

Kemudian bertemulah kita dengan ibu Nathan (Ayu Dyah Pasha), tengah dirawat di sebuah rumah sakit dengan dua perawat yang khusus menjaganya. Tampaknya ia sudah lama dirawat dan tinggal disana. Perlahan-lahan, masa lalu yang menghantui Nathan pun terungkap, termasuk hubungannya yang tak harmonis dengan ayahnya (Surya Saputra). Aspek soal keluarga ini terbangun dengan apik sehingga memberikan emotional pay off yang mengena di akhir.

Terlepas dari optimalnya drama yang terhantarkan, Dear Nathan adalah salah satu film yang menderita penyakit gagal manis lewat dialog, tapi hampir selalu sukses lewat suasana. Dan pernyataan berusan tak sepenuhnya saya maksudkan sebagai kritikan, tapi juga pujian. Satu hal yang bikin frustasi sekaligus gemas, adalah tiap kali Nathan dan Salma terlibat dalam sebuah obrolan serius, film ini seolah punya kewajiban untuk menutupnya atau minimal menyisipinya dengan sebuah pernyataan corny yang berujung pada terciptanya yaelah-bro moment: “Jawab pertanyaan simple aja nggak bisa, apalagi jawab pertanyaan soal hubungan kita” Tingkat kebasian kalimat barusan setara dengan candaan “ke hatimu...” di akhir 2010an silam, tapi lagi-lagi, suasana sudah terlanjur sukses tercipta. Dan momen semacam ini, alih-alih bikin kita rewel, justru jadi bukti betapa lugunya film ini dan hubungan percintaan yang digambarkan didalamnya.

Dari A Walk to Remember hingga 10 Things I Hate About You, pola bad-boy-falls-for-smart-girl jelas bukanlah ide yang asing telinga, dan Dear Nathan menambah panjang daftar film-film yang mempekerjakan formula serupa. Tapi yang menarik dalam hubungan Nathan dan Salma adalah, bahwa sebenarnya, keduanya tidak bisa sepenuhnya saling memahami kepribadian satu sama lain. Salah satu kenikmatan dari naskah yang ditulis oleh Bagus Bramanti dan Gea Rexy ini adalah saat mengikuti bagaimana kedua tokoh ini menavigasikan diri mereka di dalam labirin cinta monyet yang memusingkan. Meskipun sebagian besar dimainkan dengan range emosi yang terbilang sempit dan monoton, penampilan duet Nichols-Rawles disini terbukti lebih dari efektif.

Saya berani bilang “efektif”, karena saya telah menyaksikan sendiri keampuhan chemistry mereka mempengaruhi audiensnya di bioskop. Adalah adegan saat pertama kali Nathan dan Salma datang ke sekolah sebagai pasangan. Salma yang masih canggung dan malu, melangkahkan kakinya lebih cepat sehingga membuat Nathan tertinggal beberapa meter di belakangnya. Sambil berusaha mengimbangi ritme langkah kaki Salma, Nathan pun bertanya, “Lo malu pacaran sama gue?” Dan sebelum pikiran bawah sadar saya sempat memproses dan mengantisipasi apa yang mungkin terjadi setelahnya dalam scene tersebut, belasan pelajar SMP yang duduk di berbagai baris berbeda dalam studio tempat saya menonton refleks menjawab, “Ya nggak lah!” Sama-sama kaget dengan reaksi spontan tersebut, satu studio pun tertawa.