Menu

Baracas

Harus Nonton 6
Tidak Tertarik 0

Dalam dunia Baracas, Bandung bukanlah lautan asmara. Tingginya solidaritas antar sesama gender, membuat kota ini seperti terbagi dalam dua kubu. Para lelaki yang jadi korban kekecewaan cinta, bersatu membentuk Barisan Anti Cinta Asmara (Baracas), sedangkan para wanitanya, diperlihatkan melakukan unjuk rasa di beberapa titik guna menolak keberadaan Baracas. Belum lagi ada pihak keluarga dari anggota Baracas, yang juga bisa dianggap sebagai “korban” dari keadaan ini, karena mereka harus ditinggalkan anggota keluarganya yang pergi berkoloni di sebuah markas di daerah perbukitan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk kota. Berangkat dari setting dan situasi ini, sutradara Pidi Baiq tidak setengah-setengah mengolahnya, bahkan mencapai pada titik dimana terkadang film ini terasa seperti berlatarkan di sebuah semesta alternatif. Baiq menyadari betapa konyol dan recehnya premis yang ia miliki, sehingga hal pertama yang ia putuskan, adalah untuk tidak berpura-pura menganggap bahwa ini adalah film “penting.”

Baracas dipimpin oleh Agus (Ringgo Agus Rahman), sebagai sebuah perkumpulan yang tampak seperti campuran antara kelompok cult dan klub pecinta alam kampus yang sedang makrab. Agus adalah pria soft spoken yang santun, dengan tongkrongan yang memancarkan sebuah wibawa yang biasa dimiliki oleh mahasiswa angkatan lama yang tidak lulus-lulus, tapi berteman baik dan disegani oleh lima angkatan dibawahnya. Mendampinginya sebagai petinggi Baracas, adalah sang Jubir (Budi Doremi), tangan kanannya yang sedikit lebih bijak dan memiliki loyalitas sedikit lebih tinggi terhadap perkumpulan ini. Selain sebuah rapat rutin yang diselingi dengan seruan-seruan “Baracas! Jiwa raga kami!”, mereka juga punya ritual apel aneh yang dilakukan setelah olahraga pagi.

Film dibuka dengan Ajo (Ajun Perwira) yang mendapati kekasihnya, Wini (Stella Cornelia) sedang berduaan dengan pria lain. Patah hati, ia pun berpamitan dengan ibu dan adik perempuannya, dan memustuskan untuk meluncur bergabung dengan Baracas. Awalnya, film ini memiliki kesan misoginis yang kuat, dimana wanita seolah ditempatkan sebagai sosok yang buruk absolut. Tapi nyatanya, hal itu kemudian malah jadi sebuah lelucon tak terucapkan yang justru berbalik mengolok anggota Baracas sendiri, yang semuanya merupakan pria heteroseksual. Ironi dan komedi saat salah satu anggota dengan mantap mendeklarasikan “Pokoknya sampai kapanpun, kita akan benci wanita!” membuat film ini unik bila dilihat dari pendekatannya untuk materi komedi-cinta. Tapi, meskipun kita diperkenalkan oleh wanita-wanita yang menyebabkan anggota Baracas hilang kepercayaan pada cinta, termasuk Tika Bravani sebagai mantan kekasih Agus, film ini tidak pernah mengeksplor lebih dalam tentang bagaimana dinamika maupun kedalaman hubungan mereka dulunya.

Seperti yang sudah terlihat sejak menit awal film dimulai, jelas bahwa Baracas adalah film yang memiliki rasa kesadaran diri yang tinggi. Ia tidak terlalu memusingkan plot, dan lebih sibuk menciptakan dunianya sendiri. Itu sebabnya, dari segi kelancaran jalannya plot, ada perbedaan yang cukup jomplang antara paruh pertama dan paruh akhir film ini. Dimana babak ketiga yang berfungsi menyampaikan konklusi, seperti kehilangan arah dan mengambil belokan yang salah. Tapi lagi-lagi, film ini seperti tak peduli dengan hal itu, ia mengangkat bahu dan lanjut melenggang cuek.

Kadang, saya bahkan merasa bahwa ia tidak peduli guyonan yang ia sampaikan itu lucu atau tidak. Tapi justru attitude macam ini lah yang kemudian menyelamatkan beberapa momen absurd yang sebenarnya berpotensi besar jadi garing, tapi malah bikin kita nyeletuk geli “apaan sih?” Bukti lain bahwa Baracas adalah film komedi yang cuek-cuek asik, adalah fakta bahwa film ini tidak keberatan untuk menyela dirinya sendiri. Beberapa momen terbaik yang otentik dalam film ini, muncul saat ia tidak tergesa-gesa dan membiarkan karakternya ‘hidup’ mendiami situasi, dengan dialog yang cenderung ngalor-ngidul. Ambil contoh di scene saat dua polisi menyambangi markas Baracas. Perhatikan bagaimana kamera ditempatkan, cara karakter-karakter yang terlibat dalam scene itu satu per satu memasuki frame, dan seringnya percakapan disela oleh hal-hal sepele.

Selain melalui pengadeganan, dalam memunculkan nuansa komedik, Baiq juga bermain dengan dua amunisi utamanya: visual dan audio. Baracas tak malu-malu bercanda melalui shot-shotnya, kerapnya dengan wide shot di awal maupun akhir sebuah sekuens. Seperti dalam shot yang menampilkan pemuda yang duduk di atas mobil jeep milik Agus untuk berfoto. Atau shot yang muncul menjelang akhir, yang memperlihatkan abang-abang penjual jajanan di luar markas Baracas. Melalui elemen-elemen yang dipadukan dalam shot tersebut, kita seolah-olah sedang melihat anak SD bubaran sekolah. Dan salah satu adegan paling sukses megundang tawa adalah saat obrolan antara Agus dan Jubir yang diiringi oleh lagu latar berlirik nyeleneh (“Wan...”) dengan volume yang dibuat sama kerasnya dengan dialog. Melalui permainan audio ini, film ini seolah sedang mencibir dan sengaja mendistraksi kita supaya tidak usah mendengarkan dua orang yang tak tau apa-apa soal cinta ini bicara cinta.

Baracas menyajikan komedi dengan cara yang jarang kita saksikan sebelumnya. Andai saja sepanjang film ia lakukan hal itu dengan lebih konsisten.