Menu

Bid'ah Cinta

Harus Nonton 26
Tidak Tertarik 1

Siapa bilang sesuatu yang pasti – atau minimal yang kamu yakini pasti – selalu mendatangkan rasa aman? Kadang, merasa pasti justru adalah pangkal dari sesuatu yang menyulitkan. Kondisi paling beracun yang mungkin terjadi dalam situasi apapun yang melibatkan perbedaan – baik itu hanya perbedaan pendapat dalam sebuah perdebatan maupun perbedaan keyakinan yang lebih fundamental – adalah ketika salah satu pihaknya merasa bahwa apa yang ia yakini, memiliki kebenaran yang sudah pasti. Saya benar, maka kamu pasti salah.

Jika seseorang telah memiliki mindset demikian, hampir mustahil untuk melakukan dialog terbuka.

Bid’ah Cinta awalnya mengisahkan tentang hubungan percintaan antara Khalida (Ayushita) dan Kamal (Dimas Aditya) yang kelancarannya tersandung akibat perbedaan kepercayaan yang dianut oleh keluarga masing-masing. Mereka sebenarnya satu agama, hanya saja, Islam mereka ‘berbeda’. Mengingat keterbatasan pengetahuan saya terkait ilmu keagamaan, maka saya akan cari aman dengan meminimalisir penggunaan istilah untuk menghindari ketidaktepatan pemakaian. Intinya, keluarga Kamal adalah penganut Islam yang tidak mempercayai bid’ah, artinya, mereka hanya mau menjalankan apa yang mereka percayai sebagai sesuatu yang diperintahkan oleh nabi saja. Sedangkan Islam yang diyakini oleh keluarga Khalida, tidak mempersoalkan apabila mereka hendak menjalankan ritual-ritual keagamaan yang sifatnya seremonial, yang lahir dari akulturasi Islam dengan budaya setempat. Namun dalam perjalanannya, Nurman Hakim menaburkan selentingan di sana sini soal warna-warni kehidupan beragama yang kerap ditemui di masyarakat Indonesia masa kini.

Penting untuk diketahui, kendati film ini bicara tentang agama, tapi Bid’ah Cinta bukanlah medium bagi Hakim untuk berceramah soal spritualitas dan ketuhanan. Tidak ada transkrip khutbah Jumat yang disadur menjadi dialog untuk diucapkan oleh karakter dalam percakapan sehari-hari. Kalaupun ada, fungsinya lebih sebagai pengungkap karakterisasi tokoh, bukan sarana untuk menghantarkan ‘pesan moral’ pada penonton. Hakim lebih fokus pada dinamika hubungan antarumat beragama dalam satuan unit masyarakat sebuah perkampungan di kota besar. Ia mengemas Bid’ah Cinta agar bisa menantang pemikiran penontonnya dan membuat mereka beropini. Ini adalah tipe film yang mustahil untuk tidak dikomentari, dan mungkin bahkan disanggah. Dan dimanapun posisimu berada, itu sah-sah saja.

Karena titik berat film ini ada pada hablum minannas (hubungan antar sesama manusia) ketimbang hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhan), maka Hakim dan penulis naskah Ben Sohib dan Zaim Rofiqi pun mengelilingi Khalida dan Kamal dengan sederet karakter pendukung, yang tak hanya ada untuk memberikan warna, tapi juga menyumbangkan berbagai perspektif dalam isu toleransi kehidupan beragama. Yang paling berkesan adalah Ketel (Norman Akyuwen) dan Farouk (Wawan Cenut), dua pecundang kampung yang menganggap nongkrong di pos ronda sambil mabuk-mabukan adalah pekerjaan mereka. Meskipun dalam satu scene mereka berada di kubu penindas, tapi mereka sama sekali bukanlah tokoh antagonis. Keduanya merupakan potret jenaka sekaligus memprihatinkan dari anggota masyarakat kelas bawah, yang motif pengambilan tindakannya dikendalikan oleh uang dan keberpihakannya amat mudah dikontrol oleh pemegang kepentingan (“Pahala kita utamain, komisi kita harepin.”) Sebagai Ketel, Akyuwen, yang berkesan dalam Cahaya dari Timur: Beta Maluku, tampil begitu luwes dan meyakinkan, dimana pada tiap kali kemunculannya sulit sekali untuk tidak terpikat.

Bid’ah Cinta juga bisa dibilang merupakan film yang penting, karena berani menyinggung soal represi yang dilakukan oleh kelompok keagamaan terhadap kaum-kaum marjinal. Dalam hal ini, adalah kaum transgender yang diwakili oleh karakter Sandra (Ade Firman). Ia digambarkan bisa membaur secara wajar dalam sistem kehidupan sehari-hari kampung tersebut, namun pada suatu hari, haknya untuk mengakses tempat ibadah direnggut saat masjid dimana ia biasa salat berganti kepengurusan. Upaya untuk tidak menggambarkan Sandra sebagai karakter komikal yang hanya memiliki fungsi sebagai comic relief amat patut diapresiasi.

Garis lemah di jajaran karakter pendukung ada pada tokoh Hasan (Ibnu Jamil) yang di awal ditampilkan sebagai orang ketiga potensial dalam hubungan Khalida-Kamal. Tapi sepanjang film, tokoh Hasan terasa seperti hanya mengambang-ngambang tanpa pernah menunjukkan signifikansinya terhadap hubungan Khalida-Hasan maupun salah satu sub-plot yang ada.

Ayah Khalida, H. Rohili, adalah salah satu pemuka agama di kampungnya. Namun sejak kedatangan Ustadz Jaiz (Alex Abbad) yang merupakan paman dari Kamal, ia merasa jamaah pengajiannya mulai sepi dan pada berpindah ke Ustadz Jaiz. Terlebih, saat pengurus takmir masjid yang baru mengambil alih (Tanta Ginting), kegiatan keagamaan di kampung itu beberapa ada yang dikekang. Urusan yang tadinya sebatas antara dua keluarga, kini hampir melibatkan semua warga kampung. Dan karena ini urusan agama dan ini adalah Indonesia, anarkisme pun tidak bisa terhindarkan. Pemandangan familiar berupa pria-pria bergamis dan berkopiah yang saling adu jotos sembari meneriakkan jargon keagamaan pun tak luput tergambarkan. Namun, alih-alih jadi sebuah imaji yang ofensif bagi pihak-pihak tertentu, kejelian mata dan pengarahan Hakim menjadikan adegan ini sebagai sebuah momen pengungkapan. Bahwa yang bikin miris, anarkisme sering jadi sebuah wujud pembuktian akan loyalitas pada satu keyakinan (agama) yang dianut, tapi ditujukkan pada sesama manusia dalam usahanya agar bisa diterima dalam sebuah kelompok/golongan, bukannya ditujukkan pada entitas yang lebih tinggi (Tuhan).

Dalam menggambarkan dua kubu yang saling berseberangan ini pun, Hakim memilih untuk menempatkan keduanya di zona yang abu-abu. Tiap kali seolah ia sedang mencondongkan dirinya ke satu kubu tertentu, ia kemudian menunjukkan celah dari kubu tersebut. Hingga pada satu titik, baru jelas terlihat bahwa yang sebenarnya terjadi antara dua oponen ini adalah ketidaksempurnaan pemahaman antar satu sama lain, kesalahpahaman asumsi dua arah. Mereka lebih memilih untuk fokus pada satu titik yang mereka anggap cacat, ketimbang mundur beberapa langkah dan melihat gambaran yang lebih besar.

Dan seperti yang Kamal ingatkan pada ayahnya, menyaksikan Bid’ah Cinta juga mengingatkan kita pada satu hal: ketika kamu sudah terlalu sibuk mengomongkan ibadah dan agama, pastikan kamu tidak lupa akan cinta. Karena, setau saya, yang Maha Besar itu sinonim dengan cinta.

back to top