Menu

Galih dan Ratna

Harus Nonton 37
Tidak Tertarik 0

Di adegan penutup Gita Cinta dari SMA, stasiun kereta api dipakai sebagai poin perpisahan antara Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman), meninggalkan dua karakter remaja paling ikonis dalam sejarah film romansa Indonesia ini berjarak dan tidak bersatu. Tiga puluh tahun kemudian, tanpa diberi konteks apapun sebelumnya, Karno dan Gusman diperlihatkan bertemu kembali di sebuah peron stasiun sambil bergandengan tangan di adegan pembuka Galih dan Ratna. Tidak. Film arahan Lucky Kuswandi ini bukanlah lanjutan dari kisah kasih Galih dan Ratna tiga dekade kemudian a la reuni Cinta dan Rangga di Ada Apa dengan Cinta? 2. Melainkan, lebih pada adaptasi lepas dan interpretasi modern dari Gita Cinta dari SMA. Kemunculan Karno dan Gusman tersebut memang terasa manipulatif, tapi terima kasih Tuhan, tak lantas membuat film ini membiarkan dirinya sendiri terperosok dalam corong nostalgia tak berdasar.

Sentimen kejayaan masa lalu memang terlalu menggoda untuk tidak disentuh dalam segala usaha penciptaan film buat ulang. Pun ada banyak pilihan jalur yang bisa ditempuh untuk menerjemahkan nuansa nostalgia tersebut dengan derajat pengaplikasian yang bervariasi pula. Namun, bila tidak bijak dan hati-hati, ini bisa jadi jalan pintas yang berpotensi mengaburkan atau bahkan mereduksi cerita sebenarnya yang hendak disampaikan. Galih dan Ratna, untungnya, sanggup menemukan formula yang eksak untuk menyuntikkan esens nostalgia ke dalam sendi-sendi raga film yang begitu kontemporer. Ia menghadirkan sebuah kisah yang sudah terlalu familiar sekaligus menyampaikan ideologi yang baru di waktu bersamaan.

Metode yang digunakan Kuswandi sehingga akhirnya efektif memunculkan efek tersebut sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan mengoposisikan langsung dua gagasan waktu melalui dua tokoh utamanya; Galih dan Ratna, masa lalu versus masa kini. Lebih spesifiknya, dua dimensi temporal ini – dalam perwujudan dua tokoh utamanya – dilekatkan dengan dua karakterisasi primer yang tentu saja saling bertolak belakang. Mewakili masa lalu, Galih adalah sang pemimpi. Sedangkan Ratna si masa kini, cenderung lebih realis. Maka dari sini, kita mendapatkan sebuah kisah romansa yang konfliknya muncul akibat benturan-benturan yang terjadi dalam spektrum yang terbentang antara dunia si pemimpi dan si realis.

Menyusul kepindahan ayahnya kerja di luar negeri, Ratna (Sheryl Sheinafia) harus direlokasikan sementara dari Jakarta ke Bogor untuk tinggal bersama tantenya (Marissa Anita). Meskipun sempat mengeluh di awal, perubahan ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh besar pada hidup dan diri Ratna. Ia tidak dekat secara emosional dengan ayahnya, ia pun juga tidak ditampilkan punya keterikatan yang erat dengan teman-temannya di Jakarta. Ratna melihat masa SMA hanya sebagai sebuah fase yang harus dilalui, bukanlah proses yang bisa dinikmati. Sampai akhirnya ia bertemu dan kenal dengan Galih (Refal Hady). Teman sekelasnya yang tampan, misterius, tapi dianggap culun oleh sebagian teman lainnya. Sosok yang membuat hormon estrogen di tubuh Ratna bergejolak hebat.

Pertama-tama, saya harus katakan bahwa saya selalu menghargai setiap usaha untuk membuat sebuah karakter remaja menjadi lebih dari satu hal dalam satu waktu. Minimal untuk dua karakter utamanya, Kuswandi terlalu menghargai keduanya untuk rela membiarkan mereka sedikitpun mendekati karakter remaja yang stereotipe. Seiring dengan berjalannya film, karakter mereka sedikit demi sedikit terungkap, menjadikan keduanya lebih dari sekedar cap apapun yang mungkin melekat pada mereka di pandangan pertama. Yang cantik bisa kadang jorok, yang culun bisa punya pesona yang menyengat, yang pintar bisa saja naif. Semua tergambarkan tanpa harus membubuhkan tanda seru maupun menggarisbawahi kata-kata sifat tersebut.

Kredit lebih juga harus diberikan pada departemen casting hingga akhirnya menemukan dua bakat menjanjikan ini untuk didapuk menjadi Galih dan Ratna. Hady dan Sheinafia merupakan perwujudan yang sempurna untuk bisa sinonim dengan kata milenial. Mereka adalah sekarang; modern dan hip. Refal Hady punya sebuah kualitas langka yang memancarkan maskulinitas sekaligus sensitivitas dan kerapuhan dalam takaran yang tepat. Minus sisi pemberontaknya, pembawaan Hady benar-benar mengingatkan saya pada sosok River Pheonix. Dan Sheryl Sheinafia, dalam film keduanya setelah Koala Kumal, menyeimbangkan kemasannya yang sudah cocok disebut sebagai bintang, dengan sebuah quirkiness yang menjadikan sosoknya tetap membumi dan approachable.

Kisah romansa dalam Galih dan Ratna berotasi tak hanya di seputar ranah edukasi, tapi juga budaya pop. Dan ada satu elemen baku yang keberadaannya berguna untuk membantu menggerakkan jalannya plot: kaset. Di masa awal pertemuan mereka, pikiran Galih sedang kalut gara-gara ia tidak setuju kalau toko kaset musik peninggalan mendiang ayahnya hendak dijual oleh ibunya, Mirna (Ayu Dyah Pasha), lantaran sudah tidak bisa menghasilkan laba lagi. Perbedaan pendapat antara Galih dan ibunya ini mengungkapkan sebuah sifat unik yang dimiliki oleh waktu dalam kaitannya dengan memori. Mirna selalu menganggap bahwa kegigihan suaminya dalam mempertahankan toko kaset tersebut sampai akhir hayatnya merupakan faktor utama yang menyebabkan ekonomi keluarga mereka tersengal-sengal. Maka, ia sungguh tak ingin Galih mengikuti jejak ayahnya. Tapi bagi Galih, itu merupakan memori terindah dari ayahnya yang punya andil besar dalam pembentukan kepribadiannya. Bahwa ternyata, sebuah memori akan kejadian yang sama, bisa diinterpretasikan dengan cara yang amat berbeda oleh dua orang yang berbeda pula – tak peduli sedekat apapun relasi antara kedua orang tersebut.

Kendati kaset adalah benda yang asing bagi Ratna, melihat kecintaan Galih yang amat dalam terhadap toko itu, ia pun meyakinkannya untuk mempertahankannya. Hubungan keduanya pun makin erat saat bersama-sama mereka me-rebranding toko tersebut, dan membuka bisnis underground di sekolah berupa jasa pembuatan mixtape sebagai ganti surat cinta.

Selain dipakai dalam beberapa momen kunci, kaset juga beberapa kali dijadikan obyek perumpamaan dalam obrolan-obrolan ringan seputar kehidupan, yang tak hanya merefleksikan kepribadian dan cara berpikir mereka, tapi sekaligus beresonansi dengan gagasan yang lebih umum. Ratna yang pragmatis, awalnya bertanya-tanya, kenapa Galih masih betah mendengarkan musik via kaset, padahal digitalisasi mempermudah pendengar untuk bisa memilih lagu-lagu yang mereka sukai saja. “Kalau bisa langsung dapet yang enak, kenapa harus ngelewatin yang nggak enak?” Galih, di sisi lain, menganggap, kaset – yang terdiri dari deretan lagu yang telah disusun sedemikian rupa – adalah medium bercerita bagi musisi. Sehingga, dengan mendengarkan kaset dari awal sampai akhir, niscaya pendengar akan tau kisah apa yang mau disampaikan sang musisi secara utuh. Di samping itu, masih menurutnya, kenikmatan utama dari mendengarkan lagu dari kaset adalah, kepuasan klimaks yang didapat ketika kita harus melewati lagu-lagu yang biasa saja atau kurang kita gemari sebelum akhirnya sampai di nomor favorit kita. Pernyataan ini amatlah valid, siapapun yang hidup di era kaset tidak mungkin sanggup menyanggahnya.

Di beberapa bagian, tingkat kemanisan yang terkandung dalam Galih dan Ratna tak baik buat kamu yang bermasalah dengan kesehatan gigi. Tapi di bagian lain, ia membuktikan meskipun ia sanggup membuatmu terbang terbuai, ia juga punya sepasang kaki yang siap menyadarkanmu untuk menapak tanah sebelum kamu melayang terlalu tinggi. Coba perhatikan saja reaction shot Indra Birowo saat Ratna mendengarkan mixtape pemberian Galih, atau saat momen dimana Galih menyambangi rumah tante Ratna untuk pertama kalinya.

Lucunya, bagi saya – yang lahir di dekade 90an dan baru menonton Gita Cinta dari SMA saat sudah dewasa –  aspek yang paling memantik nostalgia justru terletak di dua bagian yang bisa dibilang sepele. Nostalgia yang muncul pun datang dari era yang sepenuhnya berbeda dari Gita Cinta dari SMA. Dua aspek tersebut adalah establish shot yang memperlihatkan orang sedang jogging di taman dan pilar besar di set rumah tante Ratna, yang seketika mengingatkan saya pada sinetron Jin dan Jun yang populer di akhir 90an hingga awal 2000an. Maka, hanyalah adil ketika saya menulis ulasan ini sembari menyetel tembang Gita Cinta dari Clubeighties, yang ada di album bertajuk 1982 dan rilis di tahun 2003.

back to top