Menu

Cek Toko Sebelah

Harus Nonton 65
Tidak Tertarik 0

Rivalitas antar saudara kandung adalah salah satu bentuk hubungan unik yang secara alamiah pasti terjadi di satu titik dalam kehidupan kakak-beradik. Dibilang unik, karena bentuk rivalitasnya dipengaruhi oleh banyak sekali variabel. Disamping watak, perangai, dan bakat dari masing-masing pihak, masih ada faktor eksternal dari orang tua, lingkungan, sanak saudara, yang mempengaruhi jenis persaingan, intensitas, dan hal apa yang dipersaingkan. Dan sudah jadi kodrat dari yang namanya persaingan, mereka ada untuk memberi makan ego partisipannya. Maka, tak ada hal lain yang lebih memuaskan bagi seorang anak, dibandingkan pujian dan pengakuan dari orang tua mereka.

Melalui film keduanya, Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa menunjukkan kepekaannya sebagai seorang observer. Menonton film ini, seperti menyaksikan sebuah kompilasi hasil observasi mendalam terhadap sekumpulan masyarakat kecil. Prakasa menawarkan kedekatan realita dalam kemasan sebuah film drama komedi yang tak hanya memiliki hati, tapi juga luar biasa menghibur.

Pertama-tama, ia punya pengamatan yang tajam tentang hubungan persaudaraan. Ada sebuah dialog yang meskipun sederhana, tapi amat mengena bagi saya. Bahwa benar, pasti ada sebuah masa dalam hidup seorang adik, dimana sosok yang diidolakan adalah kakaknya. Apalagi kalau kakak-beradik itu berjenis kelamin sama, manifestasi pengidolaannya bisa muncul dalam bentuk mengimitasi. Prakasa juga jeli dalam mengulik rivalitas yang terjadi di dalam hubungan persaudaraan itu. Ia tau betul bagaimana sebuah kesenjangan yang terjadi antara kakak dan adik – dalam bidang dan level apa pun – sedikit banyak akan mempengaruhi cara mereka saling berinteraksi. Dan dalam kasus Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa), pengaruhnya banyak dan beranak pinak. Yohan, berprofesi sebagai pekerja lepas dalam bidang fotografi, punya kehidupan yang belum bisa dibilang mapan. Dan seperti jutaan freelancer lain di luar sana, masih saja ia harus berurusan dengan kengehekan klien yang terlambat mencairkan invoice. Ia bahkan harus rela menelan gengsi untuk meminjam uang pada ayahnya untuk biaya produksi sebuah pemotretan. Sedangkan Erwin, sang adik, bekerja di sebuah perusahaan multinasional dan sedang mengecap manisnya masa keemasan dalam kariernya. Tinggal selangkah lagi sebelum ia dipromosikan sebagai brand director cabang Asia Tenggara di Singapura.

Lewat adegan kilas balik, sekelebat penonton diinformasikan bahwa keduanya akrab saat masih kecil dulu. Namun kini, di usia 30an, saat mereka menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda, ada kecanggungan yang menjaraki keduanya.

Saya selalu percaya, semakin spesifik sebuah film menuturkan cerita, justru akan semakin universal pesannya. Kisah Erwin dan Yohan ini makin dikerucutkan lagi dengan penambahan sebuah layer berupa norma dan budaya masyarakat peranakan Tionghoa yang telah mengakar di keluarga mereka. Sebagai penulis naskah, ini adalah sebuah keuntungan dan senjata utama yang dijinjing Prakasa. Mengingat sendirinya juga merupakan orang keturunan Cina, kecakapannya amat terasa dalam mengolah bagaimana ke-Cina-an ini masuk dalam sendi-sendi kehidupan para karakternya – seperti yang sebelumnya sudah pernah ia demonstrasikan dengan amat baik melalui Ngenest. Konflik utama pun timbul saat ayah mereka, Koh Afuk (Chew Kin Wah), menunjuk Erwin untuk meneruskan usaha toko kelontong yang sudah puluhan tahun ia jalankan.

Penawaran ini tak hanya menimbulkan kecemburuan di diri Yohan, tapi juga gejolak yang menggoyahkan stabilitas kehidupan Erwin. Meskipun tidak disetujui oleh kekasihnya, Natalie (Gisella Anastasia), Erwin pun akhirnya menyanggupi untuk mengurus toko selama satu bulan. Keputusan Erwin ini tentu makin mengobarkan api cemburu di dada Yohan. Namun, kecemburuan ini sama sekali bukan didasari oleh faktor ekonomi. Kecemburuannya ini muncul sesederhana karena sebagai anak sulung, ia merasa lebih berhak. Fakta bahwa ayahnya sendiri tidak memercayainya, mengoyak perasaan Yohan, walaupun saya juga tidak yakin orang macam ia tertarik untuk berdagang. Toh dari segi availability, dia lebih memungkinkan ketimbang Erwin yang sibuk, pikirnya. Barulah menjelang akhir, terungkap motif memilukan sesungguhnya, yang jadi alasan kenapa Yohan ingin sekali mengurus toko tersebut.

Toko kelontong milik Koh Afuk ini, selain sebagai perwujudan riil dari sebuah legacy keluarga, juga merupakan simbol dari memori kolektif yang mereka bagi bersama. Sejarah toko inilah yang secara langsung menyediakan konteks serta motivasi untuk beberapa sub plot. Dan entah disebabkan karena latar belakang etnisnya atau bukan, saya kok merasa kalau Prakasa adalah orang yang sangat tepat untuk menyinggung kembali sejarah kelam tragedi 98 dengan santainya – meskipun isu ini masih harus lebih sering dibicarakan lagi dalam medium film dari berbagai sudut pandang yang beragam.

Daya tarik terbesar film ini, tak lain, memanglah ranjau-ranjau komedik yang disebar di sepanjang film. Saat ia sedang tidak berdrama, ya pasti ia membuat tawa. Prakasa menghimpun pasukan stand up comedian untuk mengisi karakter-karakter pendukung ajaib yang silih berganti muncul untuk memicu ledakan tawa. Kenferensi buah dan sayur di meja judi adalah highlight-nya. Makhluk-makhluk penghuni toko juga diberi momennya masing-masing. Belum lagi kurir barang bersuara bajingan dan Asri Welas dan tembang lawasnya. Ya, Cek Toko Sebelah memang memiliki karakter yang kaya.

Tapi tak hanya kaya secara varian dan kuantitas saja, karakter-karakter ini juga berjasa memberikan tekstur. Bagaimana perasaan masing-masing karakter kunci terhadap satu sama lain berhasil menciptakan ketegangan dan dinamika hubungan yang tak tampak dan hanya terasa di udara. Coba lihat bagaimana Koh Afuk yang tidak suka Yohan menikahi Ayu (Adinia Wirasti) yang notabene merupakan keturunan pribumi murni. Namun, kebencian Afuk ini tidak bersifat personal. Ia tidak membenci pribadi Ayu, ia hanya membenci gagasan bahwa Ayu bukanlah keturunan Tionghoa. Pun Prakasa tidak pernah sok mencari ‘solusi’ dari situasi ini. Ketidaksukaan Koh Afuk itu sepenuhnya disikapi sebagai warna, bukan problematika.

Dan seperti naskah-naskah bagus lainnya, Cek Toko Sebelah memberikan momen yang terasa natural bagi keberlangsungan cerita, tapi sekaligus merepresentasikan suara penulisnya. Sebagai film penutup akhir tahun, Cek Toko Sebelah adalah yang dibutuhkan Indonesia: produk kesenian populer yang merayakan keberagaman. Dan dari apa yang saya lihat, ‘keberagaman’-nya pun beragam dalam film ini. Sekilas, Prakasa sempat menyuarakan salah satu bentuk keberagaman yang krusial namun kerap ditekan di masyarakat: keberagaman cara pandang menyikapi seks.

Hal ini terlihat dalam scene di kamar hotel, saat Yohan tertawa geli campur tidak percaya saat tau Erwin belum pernah berhubungan seks dengan Nathalie, disamping fakta kalau keduanya sudah lama berpacaran serius. Pengadeganan untuk scene ini berakhir sangat lucu dan menyegarkan. Tapi bukan ‘segar’ dalam konteks sebagai sex jokes. Melainkan, implikasi dari gurauan tersebut yang menyiratkan kepercayaan Yohan bahwasannya sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan, berhak saja melakukan hubungan seks, asal sama-sama mau dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Saya bilang menyegarkan karena, saat diresapi lagi, scene itu pun di saat yang bersamaan juga tidak mengadvokasi seks pra nikah.

Keberagaman lain yang turut disuarakan dan tak kalah pentingnya adalah, tentu saja, keberagaman representasi suku bangsa dan etnisitas di layar lebar Indonesia. Di dalam film tentang rekonsiliasi dan penerimaan ini, ada sebuah pesan persatuan yang terhampar tenang di dasarnya. Saya pikir sudah saatnya media massa, terutama film, mulai sadar akan kekuatannya dan turut berperan sebagai agen untuk menormalisasikan kembali keberadaan etnis dan suku bangsa minoritas di media populer. Untuk urusan ini, minimal Cek Toko Sebelah telah membantu memperlihatkan, bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian nyata dari masyarakat Indonesia. Mereka ada di tengah-tengah kita. Mereka punya keluarga, punya masalah, punya cita-cita. Tak ada bedanya dengan yang lainnya.