Menu

Ada Cinta di SMA

Harus Nonton 42
Tidak Tertarik 2

“Filmnya FTV banget,” mungkin adalah salah satu kalimat deskriptif paling populer yang kerap dipakai oleh banyak orang ketika menghakimi film tertentu. Bunyi kalimat itu sudah terlalu familiar di telinga saya, hingga pada satu titik saya mulai menyangsikan apa sebenarnya yang dimaksud oleh seseorang tiap kali mereka memakai kalimat tersebut. Pun saya juga tidak yakin apakah mereka sendiri tau apa yang mereka maksud ketika melancarkannya. Apakah artinya film tersebut tidak cukup “film”? Bukankah FTV sendiri merupakan akronim dari Film Televisi? Artinya, FTV juga memiliki unsur-unsur filmis didalamnya. Bila kalimat tersebut dipakai secara spesifik sebagai rujukan pada level pencapaian teknis, maka saya masih bisa mamaklumi. Karena memang standar teknis yang dipakai dalam produksi program televisi dan film layar lebar memiliki perbedaan yang mendasar. Namun, bila kalimat tersebut – dan ini yang lebih sering terjadi – diutarakan lantaran film yang baru saja mereka tonton memiliki jalan cerita yang tradisional atau formulatif, maka menurut saya itu sangat tidak adil. Tidak adil bagi FTV, dan tentu saja tidak adil bagi film sebagai sebuah medium bercerita.

Tidak adil bagi FTV, karena seolah-olah, FTV merupakan produk inferior yang sudah pasti lebih dangkal dan sepele dibandingkan film. Kalau ada pihak yang patut disalahkan atas terdegradasinya citra FTV ini, adalah salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, yang sejak sekitar awal 2010an menjadi pabrik dari puluhan judul FTV – atau mungkin ratusan? – dengan formula seragam lengkap dengan meet cute, penyertaan nama profesi dalam judul, dan lagu-lagu Lyla dan Yovie & Nuno sebagai soundtrack. Padahal bila mau berkaca pada industri televisi di Amerika, banyak sekali FTV, atau yang disebut oleh Emmy Awards sebagai TV Movie, yang digarap dengan production value yang tinggi dan distingtif. Sebut saja judul-judul seperti Game Change, Behind the Candelabra dan The Normal Heart.

Dan tidak adil bagi film, karena kalimat tersebut mengimplikasikan bahwa kandungan cerita dalam film haruslah selalu berkonsep rumit, baru, dan tidak boleh sederhana. Saya perhatikan, banyak penonton film Indonesia (paling tidak disekeliling saya) yang memiliki preconceived notion bahwasannya film yang baik adalah film yang, minimal, tidak mempekerjakan plot yang serupa dengan FTV tadi. Dan bila apa yang mereka lihat ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi yang sudah kadung tertancap kuat di kepala itu, maka otomatis tombol “tidak puas” yang akan mereka tekan. Hipotesis (dan semi tuduhan) ini akan makin menguat ketika kita ingat betapa tak kalah familiarnya kalimat-kalimat komentar lain seperti “keren banget filmnya, ceritanya nge-twist,” atau “saya sih kurang suka film ini, ceritanya ketebak.” Nyatanya, tak sedikit film legendaris yang memiliki jalan cerita sederhana dan mudah ditebak, atau FTV berkualitas premium dengan cerita yang dalam dan rumit. Karena pada dasarnya, tiap otak kreatif dibalik pembuatan film maupun FTV, berhak memilih jenis cerita apapun yang hendak mereka tuturkan. Yang kemudian harus dinilai oleh penonton adalah, apakah pilihan mereka itu berhasil atau tidak.

Maka tibalah kita pada Ada Cinta di SMA. Film remaja musikal garapan Patrick Effendy yang dibintangi oleh tiga personel CJR yang tersisa ini, memiliki cerita yang bisa ditebak ending-nya bahkan setelah kamu baru setengah jalan baca sinopsisnya. Tapi tolong, untuk kali ini, jangan salah sangka dan dengarkan saya dulu. Ada Cinta di SMA adalah film yang berhasil membuat para remaja tanggung tersipu dan teriak “aawww” dan membuat penonton yang sudah jauh masa remajanya berusaha keras untuk tidak keceplosan teriak “aawww” dan hanya bisa meringis gemas. Sumber pesona utama film ini dipancarkan dari bagaimana para karakter remajanya digambarkan sebagai pribadi yang utuh. Kita melihat mereka berpikir, kita melihat mereka mengambil keputusan. Naskah yang secara duet ditulis oleh Effendy dan Haqi Achmad amat menghargai remaja sebagai seseorang yang punya tanggung jawab dan kesadaran berpikir.

Ceritanya sendiri amat simple. Berpusat pada kehidupan seorang anak SMA yang menjalani kesehariannya dengan santai dan cuek. Ia ngeband, kalangkabut saat tau ada ulangan matematika, pulang kerumah, dan bersenda gurau dengan keluarganya. Namun, sebagai anak bungsu dari keluarga yang besar, ia kerap disepelekan dan tidak pernah dianggap memiliki kemampuan yang berpotensi untuk dapat serius dikembangkan. Maka, sebagai bentuk pembuktian diri, ia membulatkan niat untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Dan di tengah proses politik pemilihan ketua OSIS itu, ia menemukan romansa di diri saingannya: cewek straight A, terencana, dingin, tidak punya banyak teman, tipe-tipe yang selalu cerewet menegur teman sekelasnya yang mangkir piket. Dua muda-mudi ini diperankan oleh sangat, sangat impresif oleh Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan dan Caitlin Halderman. Mungkin kurang tepat saat tadi saya sempat menyebutkan bahwa film ini “dibintangi” oleh tiga personel CJR. Karena bintang dalam film ini adalah Iqbaal. Keberadaannya di tiap scene memancarkan charm dan aura bintang yang tidak bisa terelakkan. That kid is a natural. Perhatikan gelagatnya ketika ia sedang dalam posisi mendengarkan lawan mainnya berbicara. Atau saat dia nyeletuk usil dengan penjaga sekolah (Epy Kusnandar), presisi penyampaian dialognya bernilai dua jempol. Saya tidak bisa jamin apakah Iqbaal kelak bisa jadi aktor dengan kemampuan berlakon yang tajam dan versatile. Tapi minimal, kalau ia konsisten dan ditambah dengan pilihan film yang tepat, saya tidak akan terkejut bila dalam tiga sampai empat tahun mendatang ia sudah menggenggam status movie star dan dengan mudah mampu menjual jutaan tiket bioskop.

Effendy dan Achmad juga tak lupa mempersenjatai naskahnya dengan kumpulan karakter pendukung yang efektif untuk mengelilingi dua karakter utamanya. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menyaksikan film Indonesia berlatar sekolah yang menampilkan karakter-karakter pendukung semeyakinkan ini. Favorit saya dimainkan oleh Gege Elisa. Meskipun naskahnya tidak memberikan dimensi pada karakter yang ia mainkan, namun Elisa benar-benar hadir dan hidup di layar. Saya pun tidak keberatan menghabiskan waktu lebih lama menyaksikan interaksi antar anggota keluarga Iqbaal (Tora Sudiro, Cut Keke, Fandy Christian, Nikki Frazetta). Keputusan untuk tidak mencoba memberikan porsi cerita yang sama besar untuk dua personil CJR lainnya, Alvaro Maldini dan Teuku Ryzki, juga merupakan sebuah langkah berani yang patut dipuji. Kendati demikian, ketiganya – baik secara solo maupun beregu – tetap diberi nomor musikal yang hampir berimbang. Saya peringatkan ya, lagu-lagu di film ini hampir semua catchy, jadi jangan kaget kalau nanti kamu tidak sadar ngangguk-ngangguk keenakkan.

Ada Cinta di SMA adalah film yang digarap dengan serius, namun tidak menganggap dirinya sendiri terlalu serius. Film ini memberikan ruang dan waktu bagi pemainnya untuk menjadi remaja biasa. Namun disela-sela, tetap bisa menemukan celah untuk sesekali menyuarakan kritik sosial yang kasual (“Apaan sih lo apa-apa di-Snapchat-in, antara gaul sama alay beda tipis!”). Dan di dalam segala keceriaan warna-warni pop yang jadi mood utama film, ada sebuah tema yang terkandung di salah satu subplot yang bagi saya sangat mengena, justru berkat ketidak-terlalu-seriusan film ini dalam memandang isu tersebut. Melalui subplot yang melibatkan Ryzki dan ayahnya (Ikang Fawzi), film ini menyikapi kegagalan secara ringan, yang didasari atas kesadaran penuh bahwa kegagalan merupakan sebuah proses hidup yang tak terhindarkan. Fawzi diceritakan dulunya pernah bercita-cita menjadi musisi, namun karena satu dan lain hal, ia gagal. Kini, dengan segala bakat yang ia miliki, Ryzki mulai menumbuhkan ambisi yang sama. Merasa pernah barada dalam fase yang serupa, Fawzi pun berusaha menghentikan mimpi anaknya itu, dengan meyakinkan bahwa bermusik hanya akan membuang waktu. Dan dalam sebuah scene yang ditulis dengan amat baik, dimana Fawzi, Ryzki, bersama dengan seorang teman jaman ngeband Fawzi sedang makan bersama di meja makan, realita tentang kegagalan dan runtuhnya mimpi dituturkan dengan begitu santai dan jujur.

Ada Cinta di SMA bisa jadi adalah sasaran empuk dan mudah untuk dituduh sebagai “film yang FTV banget.” Tapi kalau memang film semenyenangkan ini harus “direndahkan” dengan dicap “FTV banget,” saya sih rela nonton FTV setiap hari di bioskop.