Menu

The Good Dinosaur

Harus Nonton 0
Tidak Tertarik 0

Pixar dikenal sebagai studio animasi yang berani menceritakan kisah yang kebanyakan orang belum pernah saksikan sebelumnya baik dalam bentuk animasi maupun live action. Spesialisasi Pixar yang selalu mengedepankan karakter yang well-developed, plot credik dan memiliki resonansi emosional, secara umum masih jarang ditemukan pada film-film bertarget konsumen keluarga produski studio lainnya.

Premis cerita The Good Dinosaur berkembang dari sebuah asas perandaian; bagaimana jika asteroid yang menghantam bumi 65 juta tahun lalu itu meleset, dan dinosaurus yang seharusnya punah akibat kejadian itu berkesempatan untuk terus ada dan berkembang sebagai sebuah spesies? Setelah prolog singkat yang menggambarkan pengandaian itu, film kemudian flash forward beberapa juta tahun kemudian, dan berfokus pada sekeluarga apatosaurus yang tengah merawat perkebunan milik mereka. Anak termuda dari keluarga ini, Arlo (disuarakan oleh Raymond Ochoa) adalah tipe anak yang selalu kalah dari saudara-saudaranya dan tidak bisa melakukan banyak hal. Ia bahkan terintimidasi oleh hewan ternak peliharaan keluarga yang menyerupai ayam. Sementara sang ayah Henry (Jeffrey Wright) dan ibu Ida (Frances McDormand) dengan afeksi tiada henti selalu meyakinkan Arlo bahwa ia ditakdirkan untuk melakukan sesuatu yang besar. Henry adalah tipe ayah suportif yang secara tulus ingin membantu Arlo menemukan kepercayaan dirinya dengan memberinya sebuah tugas yang didesain agar Arlo mampu memetik pelajaran dibaliknya. Suatu hari, ketika mengejar seorang anak manusia liar (Jack Bright) yang selama ini mencuri persediaan makanan dan hasil panen, Arlo dan Henry terjebak dalam hujan badai yang menyebabkan sang ayah terseret air bah.

Kembali ke perkebunan keluarga, kehidupan tak jadi lebih mudah pasca ditinggal sang ayah untuk selamanya. Tak lama, Arlo kembali bertemu dengan si anak liar yang ia salahkan atas kematian ayahnya. Dan saat Arlo mengejarnya, keduanya jatuh ke dalam sungai dan terbawa arus sampai akhirnya terdampar di tepian sungai bermil-mil jauhnya. Awalnya Arlo membenci anak itu, namun kelamaan, si anak liar yang berperilaku seperti anjing (anjing secara literal, bukan majas asosiasi) membuat Arlo sadar bahwa mereka bisa menjadi teman yang saling menjaga. Arlo pun akhirnya menamai anak tersebut Spot, satu-satunya nama yang membuat ia merespon diantara sederet nama yang diucapkan Arlo. Ditengah perjalanan kembali ke rumah, mereka bertemu dengan berbagai macam makhluk, seperti ular ganas dan tiga pterodactyl yang awalnya nampak bersahabat namun secara alami berhasrat untuk memangsa makhuk berdaging. Saat terdesak oleh kawanan pterodactyl yang mengincar Spot, mereka diselamatkan oleh trio T-Rex, spesies dinosaurus yang biasanya digambarkan sebagai antagonis. Sebagai film Pixar, film ini beberapa kali salah langkah yang jarang terjadi pada film Pixar lainnya. The Good Dinosaur mencekoki pesannya kepada penonton dengan cara yang terlalu blak-blakan. Bahkan ada beberapa scene dimana Arlo diceramahi tentang bagaimana menghadapi ketakutan.

Secara visual, The Good Dinosaur tak pernah berhenti membuat tercengang sepanjang durasi, dengan satu komposisi cantik ke komposisi cantik lainnya. Didominasi oleh gambar yang menggabungkan latar belakang photorealistic dengan karakter yang lebih berkarakteristik kartun dengan cara yang tidak terduga. Cara Peter Sohn menggambarkan air begitu indah dan detail, bahkan dalam satu shot, air nampak lebih menarik dibandingkan karakter yang mendiami shot yang sama. Terdapat sebuah sequence menarik yang menampilkan Arlo dan Spot berhalusinasi setelah memakan sebuah buah berjamur. Ditampilkan dengan deskripsi visual yang fun, bebas dan menarik, scene ini merupakan salah satu pemancing tawa terbesar di film ini. Namun momen paling berkesan, yang pasti akan diamini oleh banyak orang, adalah ketika Arlo dan Spot yang akhirnya benar-benar melakukan komunikasi dua arah, meskipun tanpa dipakainya bahasa. Mereka menggunakan simbol dan bahasa tubuh yang begitu sederhana namun efektif untuk berbagi perasaan yang sama atas kerinduan akan keluarga.

Film ini akan membuat penontonnya terenyuh dan terisak untuk sesaat, namun tak lama akan perlahan pudar dari memori. Masalah terbesar dari film yang di Indonesia tersedia versi dubbing dengan judul Dino Yang Baik ini, adalah bahwa film ini memiliki gagasan yang menarik dan elemen menjanjikan, namun tidak pernah tau bagaimana untuk sepenuhnya sampai kesana. Beberapa karakter seperti di impor dari film-film yang terlalu familiar, seperti The Lion King dan The Jungle Book. Senasib dengan Cars, masalah lainnya adalah bukan tentang bagaimana dunia didalamnya dibangun, baik secara visual maupun konseptual. Melainkan bagaimana Pixar membangun dunia yang sepenuhnya baru hanya untuk menceritakan sebuah kisah konvensional.

back to top