Menu

Bridge of Spies

Harus Nonton 1
Tidak Tertarik 0

Dalam satu masa, tak sering muncul seniman pencerita audio visual yang tak hanya mampu mendefinisikan sebuah periode waktu tertentu lewat sinema namun juga berhasil menyentuh penonton berskala masif dan menjadi sosok yang paling sering diberi ucapan terima kasih dalam pidato kemenangan Academy Awards (melebihi Tuhan). Di usianya yang menjelang kepala tujuh, dan dalam kali ke-30nya duduk di bangku sutradara, Steven Spielberg tidak menunjukkan tanda-tanda melepas pijakan gas penuhnya. Tanpa perlu mengaplikasikan teknik filmmaking yang revolusioner, telah cukup menasbihkan Bridge of Spies sebagai salah satu film terbaik dan terpenitng tahun 2015 dengan mengandalkan kedewasaan bertutur dan relevansi isu yang diusung.

Tom Hanks berperan sebagai James B. Donovan, seorang pengacara asuransi yang diminta untuk membela Rudolf Abel, seorang tertuduh mata-mata KGB. Awalnya Donovan  sempat ragu karena khawatir sorotan media terhadap kasus ini akan memberi dampak negatif pada kenyamanannya bermasyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin keterlibatannya ini berpotensi mengencam keselamatan jiwa Donovan dan keluarganya. Namun atasannya (Alan Alda) berhasil membuat Donovan berkata iya dengan argumen bahwa hukum Amerika sangat menjunjung tinggi Fourth Amandement dan semua orang berhak dibela di pengadilan. Apabila mata-mata tersebut tidak mendapat pembelaan, maka apa kata dunia tentang sistem yudisial Amerika? Begitu kurang lebih menuver bujukannya. Manuver yang tak lama akan berbalik ketika Donovan, yang awalnya hanya diharapkan sebagai stand in, bertekad untuk benar-benar membelanya.

Casting amatlah krusial untuk film yang mereka ulang sebuah era. Ellen Lewis dan Johanna Ragwitz melakukan kerja yang baik dalam menghimpun deretan pemain pendukung yang impresif untuk disandingkan dengan para tokoh kunci. Lihatlah bagaimana hangatnya suasana dan percakapan yang terjadi di rumah keluarga Donovan. Scene makan malam yang terjadi sesaat setelah Donovan sepakat untuk terlibat dalam upaya pembelaan Abel menciptakan salah satu gemuruh tawa terbesar di dalam studio akibat dinamika aksi reaksi aktor yang terlihat begitu effortless. Untuk sesaat kita yakin bahwa mereka benar-benar keluarga di kehidupan nyata. Sebagai mata-mata yang ditangkap, Mark Bylance mencuri hampir setiap scene yang ia huni. Character actor ini berhasil menemukan tone yang tepat, penampilannya begitu subtil hingga mimik dan gestur minor yang ia lakukan terasa sangat orgaik. Penampilan Rylance menjadi salah satu poin penting karena berhasil menampilkan Abel tidak sebagai villain, namun seseorang yang menjalankan tugas dan tetap menjaga integritas pekerjaannya meskipun berada dibawah tekanan pihak oposisi yang besar.

Ibarat sebuah bingkisan hari raya, Bridge of Spies dikemas dengan sangat cantik dengan substansi yang kaya. Unsur dan pilihan artistik dalam setiap frame nampak tepat, sesuai dan terasa sudah melalui proses pertimbangan panjang dan seksama. Bahkan keputusan untuk membuat Donovan terkena flu di sequence akhir mempertegas karakternya sebagai ‘manusia biasa’ yang telah melakukan pencapaian luar biasa. Beberapa penonton sempat terkecoh oleh poster dan judulnya yang seolah mengindikasikan bahwa Bridge of Spies memuat unsur aksi dan thriller yang kental. Apabila itu yang anda cari, saya menyesal untuk mengatakan bahwa film ini minim akan kedua unsur tersebut. Tapi apabila hal itu membuat anda berprasangka bahwa Bridge of Spies adalah film yang tidak seru, buang jauh-jauh pikiran itu.

back to top