Menu

10 Film Indonesia Terbaik 2018 Pilihan AnakNonton

Ada teman tapi malah menikah, ada yang ngajak kembali sableng, ada pula yang ngelarang-larang orang rindu, katanya berat, jadinya biar dia saja. 2018 memang tahun yang ada-ada saja.

Yang juga jelas ada, adalah film-film bagus yang bertebaran sepanjang tahun dan memberikan pengalaman menonton yang berkesan. Koki-Koki Cilik dan Kulari ke Pantai membuat 2018 jadi tahun dimana anak-anak punya tontonan bioskop berkualitas yang digarap sama seriusnya dengan film untuk orang tua mereka. Wiro Sableng, selain jadi film yang turut diproduksi oleh studio film mayor Hollywood, bau-baunya akan jadi pembuka jalan bagi film-film pendekar Indonesia lainnya. Pencetak para pujangga/penggombal dadakan juga bukan lah satu-satunya gelar yang diperoleh Dilan 1990 tahun ini. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini meninggalkan tahun 2018 sebagai film terlaris tahun ini, dan hampir melengserkan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 sebagai yang terlaris sepanjang masa. Belum lagi bagi para penggila AADC, yang dipuaskan dahaganya dengan film lepasan dari dua karakter paling lovable dalam semestanya: Milly & Mamet.

Tahun ini, Timo Tjahjanto juga memberi kita The Night Comes for Us dan Sebelum Iblis Menjemput sekaligus, yang dua-duanya sama-sama gila. Widyawati, Ratna Riantiarno, dan Niniek L. Karim seru-seruan bersama di Mama-Mama Jagoan, yang harus banget kamu cek kalau sudah muncul di layanan streaming nanti. Dengan segala naik turun (dan terus naiknya angka penonton), film Indonesia dalam kurun waktu satu tahun ini kembali memberikan suguhan yang beragam dan kadang mengejutkan. Berikut adalah 10 film yang dipilih oleh tim AnakNonton, yang selain karena secara kualitas memang dianggap superior, tapi juga memberikan pengalaman menonton paling membekas di tahun ini:

 

10. Hoax

Etalase penampilan menarik dari segerombolan aktor terbaik yang dimiliki Indonesia. Merupakan versi suntng ulang dari Rumah dan Musim Hujan yang sempat tayang di beberapa festival film di tahun 2012 silam, Hoax tampil dengan alur yang lebih integral dan menghibur. Menggabungkan tiga genre yang masing-masing mengusung isu yang berbeda dalam satu film, bukanlah perkara mudah. Namun Ifa Isfansyah berhasil melakukannya dengan mulus, plus penampilan apik dari para bintang yang memainkan karakter yang membumi.

 

9. Rompis

Salah satu tontonan terasik untuk lari sejenak dari dunia nyata. Mengajak kita untuk menilik konflik romansa yang sebenarnya dewasa tapi disampaikan dengan perilaku yang kekanak-kanakan. Kisahnya dihantarkan dengan begitu mengikat berkat kepiawaian pemain yang menyuguhkannya dengan amat meyakinkan, nyata, sekaligus menggemaskan. Tiap candaan dan godaan yang karakternya saling lontarkan, membuat betah berlama-lama melihat mereka berinteraksi, sekaligus sesekali bikin kita iri ingin mengalaminya sendiri. Umay Shahab buktikan kemampuan aktingnya disini

 

8. Petualangan Menangkap Petir

Film anak yang kekuatannya bertumpu pada karakter dan dialog. Dengan presentasi yang terbilang sederhana, keberhasilan film ini jadi tontonan yang menarik tercipta berkat pendekatannya yang menganggap bahwa penonton anak juga bisa jadi observer dan tidak melulu harus dicekoki "pesan moral" secara gamblang. Tapi jangan salah, meskipun tampak luarnya adalah film untuk bocah, film ini juga memuat kritik soal bagaimana cara orang tua berfungsi merupakan bagian yang justru kadang menghalangi anak memperoleh potensi tertinggi mereka.

 

7. Yowis Ben

Buat yang zaman SMA dulu pernah bikin band cuma buat gaya-gayaan caper sama gebetan, bohong kalau nggak merasa nostalgia dan ingin menertawakan diri sendiri saat nonton film ini. Film debut penyutradaraan Bayu Skak ini penggambaran yang langka dari lika-liku dunia SMA yang berlatar bukan di Jakarta. Karena beda kota, sudah pasti beda dinamika. Bahkan, fakta bahwa film ini menggunakan dialog yang hampir sepenuhnya dilakukan dalam bahasa Jawa Timuran, membuat Yowis Ben begitu segar, spesifik, dan suapik tenan, cuk!

 

6. Kafir

Kafir menciptakan kengerian dengan membangun atmosfer asing yang membuat tidak nyaman dan gelisah. Santet, umum dituturkan dari mulut ke mulut dalam masyarakat Indonesia, melalui film ini divisualisasikan dengan hubungan sebab akibat yang terbilang realistis, lepas dari fitrahnya sebagai kisah klenik yang memang tidak sinkron dengan akal sehat. Keserakahan, dendam, trauma kehilangan orang terkasih, dan naluri saling menjaga antar anggota keluarga dileburkan sehingga motivasi utama semua karakter abu-abu. Secara teknis, film ini juga punya presentasi yang apik dan terasa tidak dibuat serampangan. Angin segar di tengah sesaknya perfilman Indonesia di tahun 2018 dengan film-film horor medioker. 

 

5. Jelita Sejuba, Mencintai Kesatria Negara

Putri Marino dianugerahi wajah yang mampu memberikan kekuatan besar pada sebuah close-up shot. Senyumnya menghangatkan, raut sedihnya memilukan. Sebagai seorang gadis asli Natuna yang akhirnya memilih untuk berumah tangga dengan anggota TNI, Marino memanggul semua beban emosi yang hendak disampaikan film ini dengan begitu terpercaya. Mulai dari lugunya naksir-naksiran, sampai pahit getirnya jadi pasutri muda yang harus terpisah lama karena tugas negara, semua tuntas membuat penonton peduli dengan nasib akhir karakternya. Dan buat cewek-cewek yang ikutan pingsan saat nonton adegan melamarnya mana suaranya?

 

4. Aruna dan Lidahnya

Kisah pencarian rasa di berbagai kota di Indonesia menggunakan dua indra perasa: lidah dan hati. Konfliknya interpersonalnya jamak ditemui pada orang-orang di rentang usia 30-an, sehingga bagaimana Edwin menampilkannya pun juga dengan dewasa. Sebagai sebuah dialog driven film, Aruna dan Lidahnya punya banyak nutrisi yang terkandung dalam dialog antar karakternya. Pun momen-momen diantaranya yang hanya diisi oleh lirikan mata maupun hembusan nafas panjang pun punya makna yang menggelitik. Namun, lebih lezat dari surga berwujud mie kepiting Pontianak, adalah dinamika pertemanan antar dua wanita dewasa yang digambarkan dengan begitu nyata, dan rasa-rasanya masih jarang diangkat oleh film Indonesia.

 

3. Sekala Niskala

Penafsiran dari alam bawah sadar anak-anak yang abstrak sekaligus menghipnotis. Tentang bagaimana seorang anak memproses duka mendalam, dengan latar alam dan kebudayaan Bali. Setelah debutnya dalam The Mirror Never Lies, Kamila Andini tampaknya amat tertarik dengan bagaimana seorang remaja putri berdamai dengan kematian. Dan dalam film ini, Andini memakai seni tari sebagai medium penyampaian emosi karakternya, serta penggambaran koneksi supranatural yang dimiliki sepasang saudara kembar. Dipotret dengan nuansa naturalistik dan cahaya alami, hasilnya adalah sebuah film yang cantik, moody, dan menghantui.

 

2. Menunggu Pagi

Teddy Soeriatmadja menjadikan DWP, alias pesta terbesar anak-anak party, sebagai wahana dimana segala hal tak terduga bisa terjadi. Mulai dari kejar-kejaran dengan preman club malam, salah paham dan dikerjain pengedar narkoba, sampai hampir keciduk razia polisi saat sedang giting. Dan lagi, hal tergila yang terjadi justru menemukan cinta. Aurelie Moeremans dan Arya Saloka jadi protagonis kita yang simpatik di tengah riuhnya karakter lain dan sesaknya lantai dansa DWP. Dibumbui dengan elemen screwball dan sedikit aksi, Menunggu Pagi pertontonkan kemampuan filmmaking yang canggh sekaligus drama manusia yang sederhana. Andai lebih banyak orang menyaksikan film ini.

 

1. Love for Sale

Setelah Sheila on 7 menciptakan lagunya 16 tahun yang lalu, kini Gading Marten jadi wajah baru pria-pria kesepian. Ditulis dan disutradarai oleh Andibachtiar Yusuf, Love for Sale bermain-main dengan konsep jatuh cinta dan kesepian di era modern. Ketika semua hal sudah terdigitalisasi dan interaksi manusia yang makin transaksional, apakah cinta sahih dijadikan komoditas? Premis yang menarik ini kemudian dikemas dengan desain visual yang unik dan distingtif. Pengarahan Yusuh yang luwes pun membuat guliran ceritanya terasa ringan tanpa harus kehilangan muatan. Namun penampilan solid dari Marten lah yang pada akhirnya jadi nyawa utama film ini. Bangun tidur galer sambil ngobrol dengan kura-kura, ia berangkat kerja, pulangnya nonton bola. Ada pancaran melankolis dari peringainya yang masih boyish meskipun sudah berusia matang. Ia jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta. Membuat kita iba seraya ingin menghiburnya; apa keluhanmu, pria kesepian?

back to top