Menu

10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2017 Pilihan AnakNonton

... dan dua belas bulan pun telah berlalu.

Sembari kita hanyut diterjang derasnya arus kehidupan, industri perfilman dalam negri telah memberikan 128 judul yang bisa kita manfaatkan untuk berbagai tujuan; hiburan, pembelajaran, atau sekedar pelarian. Ragamnya pun kian bermacam-macam. Bila ditilik dari genrenya, kendati jumlahnya tak signifikan, masih tetap ada satu dua judul yang datang dengan kesegaran. Lepas dari fakta itu, izinkan saya mengibaratkan perfilman Indonesia sebagai rumah makan. Jangankan yang kelasnya pinggir jalan, restoran mentereng yang sudah punya nama saja kadang masakannya kerap tidak konsisten. Satu hari lezat, lain hari tak bikin selera. Satu hari terasa kurang matang, lain hari bikin ketagihan.

Berikut telah AnakNonton pilih 10 judul film dari sekian banyak sajian, yang kendati sudah dikecap sekarang, rasanya akan tetap bisa dikenang di tahun-tahun mendatang.

 

10. Dear Nathan

Merayakan cinta monyet dengan begitu lugu dengan selipan drama keluarga yang efektif. Secara subtil, film ini juga menampilkan bagaimana seorang remaja putri harus bisa mengambil sikap tanpa harus atau mau terdominasi pria. Film pertama yang meluncurkan status Jefri Nichol sebagai pemain baru dalam bursa per-heartthrob-an perfilman nasional. Pengalaman menontonmu tahun ini tidak lengkap kalau belum mengalami berada di satu studio bersama dengan serombongan siswi SMP yang ikut histeris saat Nathan menggoda Salma di lorong sekolah.

Baca ulasan lengkapnya disini.

 

9. Bid'ah Cinta

Bingkai luarnya boleh saja soal cinta segitiga, tapi Bid’ah Cinta punya substansi dengan tingkat urgensi yang lebih tinggi. Sebuah komentar sosial soal bagaimana terkadang keyakinan membutakan kemanusiaan. Film ini juga bisa dijadikan sebagai contoh yang baik bagaimana seharusnya menampilkan tokoh yang berasal dari kaum marginal. Melalui penggambaran konfliknya yang sangat tidak asing dengan keadaan Indonesia saat ini, sekali lagi kita disadarkan bahwa negri ini sedang darurat toleransi. Salah satu naskah terbaik tahun ini.

Baca ulasan lengkapnya disini.

 

8. Galih dan Ratna

Lucky Kuswandi tak hanya menggunakan nostalgia sebagai pembangkit sentimen kejayaan masa lalu semata. Dalam Galih dan Ratna, ia menemukan ramuan yang pas untuk menceritakan kisah klasik ini dengan rasa yang begitu kontemporer, namun tetap menghargai materi aslinya. Sebagai Galih dan Ratna 2.0, Refal Hady dan Sheryl Sheinafia membawa sensitivitas dan punya sentuhan kekinian sehingga penampilan mereka tak berakhir jadi usaha duplikasi semata. Dan untuk penonton generasi lawas, munculnya kerinduan mendengarkan musik dari kaset pun tak bisa terelakkan.

Baca ulasan lengkapnya disini.

 

7. Kartini

“Panggil aku Kartini saja.” Begitu pinta sosok yang kini jadi simbol emansipasi wanita di Indonesia ini pada kedua adiknya. Diluar tampilan desain produksinya yang begitu megah, melalui film ini, Hanung Bramantyo melucuti segala atribut kepahlawanan yang selama ini terlanjur melekat kuat di diri Kartini, untuk kemudian menampilkannya dalam cakupan konteks yang lebih mendasar: seorang wanita dalam budaya Jawa. Film ini juga berhasil mempersempit jarak figur Kartini dengan penonton, karena disini ia adalah manusia biasa yang punya humor, ego dan keputusasaan. Dan yang jadi pusatnya, adalah penampilan memikat dari Dian Sastrowardoyo, dan performa Christine Hakim yang akan mengoyak emosi.

 

6. Ziarah

Film paling emosional tahun ini adalah sekaligus film dengan pembawaan paling bersahaja. Ditulis dan diarahkan oleh BW Purba Negara, Ziarah menuturkan kisahnya dengan sabar, mengajak kita mengikuti perjalanan Mbah Sri menelusuri jejak “keberadaan” cinta sejatinya. Dengan segala kesederhanaannya, Purba Negara mengolah sejarah, oral story, waktu, pengharapan, close-up wajah Mbah Sri, dan pengungkapan realita, untuk menghasilkan kisah yang manis sekaligus memilukan. Ziarah adalah bukti bahwa untuk menciptakan gaung yang keras, tak selamanya perlu instrumen yang megah dan cangih. Dan bicara soal plot twist, film ini juara umumnya.

 

5. Night Bus

Waktu pertama kali menontonnya saat film ini tayang, saya pikir “Wow... wow!” Tapi seminggu berselang, tau-tau Night Bus sudah raib dari peredaran. Apa dosa film yang dibuat dengan craftmanship yang amat baik ini sehingga penonton ogah mengunjunginya di bioskop? Sebagai sebuah thriller, Night Bus teruji ampuh memupuk rasa cemas. Yang bikin film ini spesial (dan anehnya, segar), rasa cemas itu berhasil dimunculkan bukan dari hal-hal berbau klenik atau unsur sadis didalamnya, melainkan dari isu konflik sosial yang diusungnya. Film ini pun kemudian, secara layak, berhasil memenangkan piala Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2017, dan saya pun berteriak, “Aha!”

 

4. Turah

Saat keinginan untuk bereproduksi harus terbentur pada realita bahwa ruang yang saat ini dihuni, terlalu suram untuk menawarkan harapan dan masa depan. Sebuah potret yang miris dari sebuah pemukiman kumuh di Tegal, yang sesekali mengundang gelak tawa justru karena saking absurdnya kejadian yang mungkin terjadi di daerah yang terisolir ini. Sebuah debut penyutradaraan yang impresif dari Wicaksono Wisnu Legowo, menyuguhkan realisme tingkat tinggi untuk menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Melancarkan kalimat-kalimat pedas dan menggugat secara beruntun sepenuhnya dalam bahasa Ngapak, lengkap dengan perawakan dan raut wajah yang mencerminkan kegetiran hidup, Slamet Ambari sebagai Jadag adalah salah satu penampilan aktor paling mengesankan tahun ini.

 

3. Pengabdi Setan

Mau tinggal di daerah pedesaan maupun wilayah urban, sudah sejak lama masyarakat Indonesia bersahabat dengan cerita tentang dedemitan. Maka terbilang cukup mengejutkan, bahwa baru di tahun 2017 ini kita bisa mendapatkan tontonan film berjurik yang dibuat dengan keseriusan yang selevel Pengabdi Setan. Atmosfer tak nyaman ditebar Joko Anwar di tiap momen dan sudut rumah Bapak dan Ibu. Mulai dari lokasi kamar mandi, motivasi Bapak yang dipertanyakan, reaction shot Pak Ustaz yang janggal, hingga dentingan lonceng yang bikin terngiang-ngiang. Semua detail punya andil dalam memunculkan kengerian dalam level yang beragam. Lebih dari itu semua, dua hal yang paling layak disyukuri atas keberadaan Pengabdi Setan, adalah diperkenalkannya kita pada pemeran si bungsu tuna rungu Muhammad Adhiyat, dan kampretnya tagar #IbuSampaiKaget.

 

2. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah tentang bagaimana wanita, sebagaimanapun sudah muaknya, mau tak mau tetap harus menghadapi segala macam tai di dunia lelaki. Kendati mengingatkan betapa di negara ini rape culture masih begitu kental, namun penyampaian isunya dilakukan dengan cara yang sensitif sekaligus badass. Berlatarkan bentang alam Sumba dengan dominasi palet warna coklat kekuningan yang dipotret dengan elegan, diiringi scoring musik gubahan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani, dan digawangi oleh performa tanpa ampun dari Marsha Timothy, Moully Surya bak menciptakan oasis di tengah gurung pasir yang hanya akan muncul beberapa tahun sekali.

Baca ulasan lengkapnya disini.

 

1. Posesif

Mengeksplorasi sisi gelap dari obsesi dan cinta pertama, Posesif adalah kendaraan Edwin untuk keluar dari lingkar audiensnya yang semula terbatas, menuju panggung yang lebih luas. Kendati punya nuansa pop yang cukup kental dari materinya, Edwin tak lantas membiarkan ke-Edwin-annya untuk hilang begitu saja. Ia terlalu peduli pada karakter yang ia punya, untuk rela tidak membiarkan mereka jatuh ke lubang keklisean karakter berdimensi tunggal. Dan betapa beruntungnya ia memiliki Putri Marino dan Adipati Dolken sebagai penggawa yang berdiri di lini terdepan film ini. Memerankan sepasang kekasih yang menjalin hubungan beracun, untungnya duet akting Marino-Dolken tak pernah sefals duet nyanyi mereka dalam lagu Dan. Tanpa perlu berpikir terlalu lama, Lala dan Yudhis dapat dengan mudah ditahbiskan sebagai duo karakter paling menarik dan memikat tahun ini.

Baca ulasan lengkapnya disini.

back to top