Menu

Nominasi Festival Film Indonesia 2017: Dominasi ‘Kartini’, Mereken Horor dan Di mana Reza Rahadian?

Saat satu per satu nomine dalam 22 kategori Festival Film Indonesia 2017 disebutkan pada hari Kamis (6/10) malam di Raffles Hotel, ada satu film yang judulnya paling sering disebut ketimbang film lainnya. Adalah Kartini, film yang hampir semua nama yang terlibat di dalamnya disebutkan, mulai dari departemen artistik, penyuntingan gambar, hingga penyutradaraan dan pemeran, biopic tokoh emansipasi wanita arahan Hanung Bramantyo ini mendominasi perolehan nominasi calon peraih Piala Citra tahun ini. Dari 18 kategori yang tersedia untuk film panjang bioskop, Kartini berhasil masuk pada 13 kategori termasuk Film Terbaik, dan dalam satu kategori, yaitu Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Kartini diwakili oleh dua nama. Sehingga, film yang diproduseri Robert Ronny ini total mendapatkan 14 nominasi.

Melengkapi deretan film yang diuggulkan untuk Film Terbaik, adalah Cek Toko Sebelah (9 nominasi), Night Bus (12 nominasi), Posesif (10 nominasi, tayang luas di bioskop mulai 26 Oktober) dan film horor fenomenal Pengabdi Setan. Berbarengan dengan hari dimana Pengabdi Setan berhasil meraup satu juta penonton, film buat ulang arahan Joko Anwar ini menerima banyak cinta dari FFI. Dari sejarahnya, horor bukanlah genre yang secara umum kerap diapresiasi oleh juri-juri FFI. Kalaupun masuk nominasi, kerapnya lebih untuk departemen teknis seperti tata suara atau spesial efek. Bila menilik penyelenggaraan FFI di 10 tahun ke belakang saja, hanya satu film horor yang berhasil dinominasikan sebagai Film Terbaik, yaitu Belenggu arahan Upi pada tahun 2013.

Pengabdi Setan, yang masih tayang luas di jaringan bioskop seluruh Indonesia, yang teori tentang ending-nya masih segar jadi bahan perbincangan penonton, dan yang #IbuSudahBisa-nya masih ramai berlalu lalang di lini masa sosial media, makin mempertinggi momentumnya saat dewan juri yang diketuai oleh Riri Riza memutuskan untuk mengganjar film ini dengan 13 nominasi, termasuk untuk Sutradara dan Pemeran Anak Terbaik, dan menjadikannya sebagai film kedua yang paling banyak dinominasikan. Tentu ini sebuah landmark baru bagi genre horor di perfilman Indonesia. Pengabdi Setan membuktikan bahwa genre tidak mendefinisikan kualitas. Bahwa horor, apabila sama-sama digarap dengan serius, juga berhak mendapatkan apresiasi dan bersanding dengan genre lain di ajang penghargaan macam FFI.

Pengabdi Setan bukanlah satu-satunya film buat ulang yang berhasil mendulang banyak nominasi di FFI tahun ini. Sweet 20, buat ulang dari film komedi hit Korea, Miss Granny, juga akan bersaing untuk memperebutkan Piala Citra di 9 kategori, termasuk Tatjana Saphira dalam salah satu kategori paling kompetitif, Pemeran Utama Wanita Terbaik. Mengingat performanya yang begitu prima dan tak tenggelam saat beradu akting dengan para legenda akting, bukan tidak mungkin bila Saphira yang akan berakhir naik podium di Manado pada tanggal 11 November mendatang.

Tak hanya Kartini saja yang menang besar tadi malam. Rumah produksi yang menaunginya, Legacy Pictures, juga keluar sebagai rumah produksi yang paling subur membuahkan nominasi. Selain dari 14 yang disumbangkan Kartini, Legacy juga patut bangga dengan sumbangan 6 nominasi tambahan dari dua delegasinya yang lain. Gerbang Neraka, film horor petualangan berlatarkan Piramida Gunung Padang, mendapatkan dua nominasi untuk kategori Penata Rias Terbaik dan Penata Visual Efek Terbaik. Film marital drama yang diadaptasi dari novel laris Ika Natassa, Critical Eleven, juga sukses diunggulkan di empat kategori, termasuk untuk pemeran utama wanitanya, Adinia Wirasti.

Bagi yang sudah menyaksikan Critical Eleven dan tersihir oleh kedahsyatan chemistry Adinia-Reza, pasti setuju kalau penampilan keduanya sama-sama kuat dan saling menguatkan. Artinya, penampilan Adinia tidak akan sebaik ini tanpa adanya tandem yang sama kuatnya dari Reza, begitupun sebaliknya. Maka, saat mengecek lagi daftar nominasi dan sampai pada kategori Pemeran Utama Pria, wajar kalau kemudian kita serentak bertanya: kemana Reza?! Lupa diketik atau gimana?!

Simpan dulu komplain tahunanmu “Reza lagi, Reza lagi”, tapi sungguh, absennya Reza ini benar-benar anomali. Tidak perlu lah rasanya kita membuka perdebatan kenapa Reza gagal masuk jadi nominasi padahal si aktor A atau B saja bisa. Masalahnya, yang bikin mulut ini menganga heran adalah, alih-alih lima, kategori Pemeran Utama Pria hanya terisi oleh empat nama. Padahal, kategori Pemeran Pendukung Wanita saja untuk tahun ini terisi tujuh nama (sebuah keanomalian lain, tapi yasudahlah). Artinya, dengan hanya menominasikan empat aktor saja, seolah-olah juri FFI mau bilang kalau tahun ini perfilman Indonesia tak punya cukup penampil utama pria yang layak dinominasikan. Belum lagi adanya sebuah argumen yang bisa disusun bahwasannya salah satu nomine Pemeran Utama Pria tahun ini, Deddy Sutomo dalam Kartini, ditempatkan di kotak yang salah dan seharusnya bersaing di kategori Pemeran Pendukung. Tapi, lepas dari apapun alasan yang sebenarnya, siapa tau raibnya Reza Rahadian dari daftar calon penerima Citra tahun ini adalah sebuah langkah yang memang sengaja diambil oleh panitia untuk mempertahankan ciri khas FFI. Karena, apalah FFI tanpa kontroversi.

Berikut daftar lengkap nominasi Festival Film Indonesia 2017:

 

Film Terbaik

Cek Toko Sebelah

Kartini

Night Bus

Pengabdi Setan

Posesif

 

Sutradara Terbaik

Edwin (Posesif)

Emil Heradi (Night Bus)

Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah)

Hanung Bramantyo (Kartini)

Joko Anwar (Pengabdi Setan)

Ody C Harahap (Sweet 20)

 

Pemeran Utama Pria Terbaik

Adipati Dolken (Posesif)

Deddy Sutomo (Kartini)

Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah)

Teuku Rifnu Wikana (Night Bus)

 

Pemeran Utama Wanita Terbaik

Adinia Wirasti (Critical Eleven)

Dian Sastrowardoyo (Kartini)

Putri Marino (Posesif)

Sheryl Sheinafia (Galih dan Ratna)

Tatjana Saphira (Sweet 20)

 

Pemeran Pendukung Pria Terbaik

Alex Abbad (Night Bus)

Dion Wiyoko (Cek Toko Sebelah)

Slamet Rahardjo (Sweet 20)

Tyo Pakusadewo (Night Bus)

Yayu Unru (Posesif)

 

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik

Adinia Wirasti (Cek Toko Sebelah)

Christine Hakim (Kartini)

Cut Mini (Posesif)

Djenar Maesa Ayu (Kartini)

Marissa Anita (Galih dan Ratna)

Niniek L Karim (Sweet 20)

Widyawati Sophiaan (Sweet 20)

 

Pemeran Anak Terbaik

Aish Nurra Datau (Iqro: Petualangan Meraih Bintang)

Bima Azriel (Surat Kecil Untuk Tuhan)

Muhammad Iqbal (Stip dan Pensil)

Muhammad Adhiyat (Pengabdi Setan)

Muhammad Razi (Surau dan Silek)

Neysa Chandra Melisenda (Kartini)

 

Pengarah Sinematografi Terbaik

Amalia T.S. (Galih dan Ratna)

Anggi Frisca (Night Bus)

Batara Goempar (Posesif)

Faozan Rizal (Kartini)

Ical Tanjung (Pengabdi Setan)

 

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik

Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo (Kartini, didasarkan pada kisah hidup R.A Kartini)

Fathan Todjon, Lucky Kuswandi (Galih dan Ratna, adaptasi novel Gita Cinta dari SMA karya Eddy D Iskandar)

Joko Anwar (Pengabdi Setan, didasarkan pada film Pengabdi Setan (1980))

Rahadi Mandra, Teuku Rifnu Wikana (Night Bus, adaptasi cerita pendek Selamat karya Teuku Rifnu Wikana)

Upi (Sweet 20, adaptasi dari skenario film Miss Granny (2014) karya Shin Dong-ICK, Hoon Young-Jeong, Dong Hee-Sun, Hwang Dong-Hyuk)

 

Penulis Skenario Asli Terbaik

Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah)

Gina S. Noer (Posesif)

Joko Anwar, Ernest Prakasa, Bene Dion Rajaguguk (Stip dan Pensil)

Nurman Hakim, Zaim Rofiqi, Ben Sohib (Bid’ah Cinta)

Raditya Dika (Hangout)

 

Penyunting Gambar Terbaik

Aline Jusria (Sweet 20)

Arifin Cuunk (Pengabdi Setan)

Cesa David Luckmansyah (Cek Toko Sebelah)

Kelvin Nugroho, Sentot Sahid (Night Bus)

Ryan Purwoko (Critical Eleven)

Wawan I Wibowo (Kartini)

W Ichwandiardono (Posesif)

 

Penata Suara Terbaik

Dwi Budi Priyanto, Khikmawan Santosa (Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon)

Khikmawan Santosa (Kartini)

Khikmawan Santosa, Anhar Moha (Pengabdi Setan)

Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar, Madunazka (Cek Toko Sebelah)

Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar, Suhadi (Critical Eleven)

Wahyu Tri Purnomo, Jantra Suryaman (Night Bus)

 

Pencipta Lagu Terbaik

Isyana Sarasvati - "Sekali Lagi" (Critical Eleven)

Melly Goeslaw - "Dalam Kenangan" (Surga yang Tak Dirindukan 2)

Mada The Overtunes - "Senyuman dan Harapan" (Cek Toko Sebelah)

The Spouse - "Kelam Malam" (Pengabdi Setan)

 

Penata Busana Terbaik

Anggia Kharisma (Filosofi Kopi 2: Ben & Jody)

Dara Asvia (Sweet 20)

Gemailla Gea Geriantiana (Night Bus)

Isabelle Patrice (Pengabdi Setan)

Retno Ratih Damayanti (Kartini)

 

Penata Rias Terbaik

Cherry Wirawan (Night Bus)

Cherry Wirawan, Dian Anggraini (Gerbang Neraka)

Cika Rianda (Posesif)

Darwyn Tse (Pengabdi Setan)

Darto Unge (Kartini)

 

Penata Artistik Terbaik

Allan Sebastian (Kartini)

Allan Sebastian (Pengabdi Setan)

Benny Lauda (Filosofi Kopi 2: Ben & Jody)

Vida Sylvia (Sweet 20)

 

Penata Efek Visual Terbaik

Amrin Nugraha (Night Bus)

Epix Studio, Postima, Mag (Rafathar)

Finalize Studios (Pengabdi Setan)

Fixit Works (Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon)

Fixit Works (The Doll 2)

Orangeroom Cs (Gerbang Neraka)

 

Penata Musik Terbaik

Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti (Pengabdi Setan)

Ivan Gojaya (Galih dan Ratna)

Mc Anderson (Filosofi Kopi 2: Ben & Jody)

Thoersi Argeswara (Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon)

Tya Subiakto (Mooncake Story)

 

Film Pendek Terbaik

Amak - Ella Angel

Babaran - Meilani Dina Pangestika

Buang - Eugene Panji

Jendela - Randi Pratansa

Kleang Kabur Kanginan - Riyanto Tan Ageraha

Lintah Darat - Putri Zakiyatun Ni'mah

Nyathil - Anggita Dwi Martiana

Pentas Terakhir - Triyanto 'Genthong- Hapsoro

Ruah - Mabul Mubarak

Salam Dari Kepiting Selatan - Zhafran Solichin

 

Film Animasi Pendek Terbaik

Darmuji 86: Bhineka di Persimpangan - Ahmad Hafidz Azro'i

Kaie and The Phantasus's Giants - Ahmad Hafidz Azro'i

Lukisan Nafas - Fajar Ramayel

Make a Wish - Salsabilla Aulia Rahma

Mudik - Calvin Chandra, Ardhira Anugrah Putra, Alfonsus Andre, Aditya Prabaswara

 

Film Dokumenter Panjang Terbaik

Balada Bala Sinema - Yuda Kurniawan

Banda: The Dark Forgotten Trail - Jay Subiyakto

Bulu Mata - Tony Trimarsanto

Ibu (An Extraordinary Mother) -. Patar Simatupang

Negeri Dongeng - Anggi Frisca

Tarling Is Darling - Ismail Fahmi Lubis

 

Film Dokumenter Pendek Terbaik

Anak Koin - Chrisila Wentiasri

Dluwang: The Past From The Trash - Agni Tirta

Living In Rob - Fuad Hilmi

Sepanjang Jalan Satu Arah - Bani Nasution

Solastalgia - Kurnia Yudha F.

Songbird: Burung Berkicau - Wisnu Surya Pratama

The Unseen Words - Wahyu Utami Wati