Menu

5 Film Indonesia Terbaik 2016 Pilihan AnakNonton

Gampangnya, indikasi untuk menilai keberhasilan sebuah film bisa dilihat dari seberapa besar film tersebut meninggalkan kesan dan mempengaruhi penontonnya. Seberapa dalam film itu membuat penontonnya bersedih, seberapa keras film itu membuat tertawa, seberapa jauh film itu membuat penonton mempertanyakan realita, dan seterusnya. Untung-untung, si penonton bisa pulang dengan membawa sesuatu yang berharga. Sesuatu yang belum pernah mereka tau atau rasakan sebelumnya. Yang muncul dalam bentuk imaji maupun gagasan, yang mampu menstimulasi tak hanya bagaimana kita mengolah pikir, tapi juga mengolah rasa. Karena dalam level yang lebih lanjut, itu merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki sinema.

Berangkat dari kesadaran ini, saya memutuskan untuk mencoba hal baru. Tahun 2016 lalu, by the way, saya telah menginjak sebuah usia dimana untuk pertama kalinya saya merasa “Wow. I am actually a grown up now.” Karenanya, saya akan memanfaatkan proses menulis artikel ini tak hanya sebagai penghormatan kepada film-film Indonesia paling berkesan di tahun 2016, tapi juga sekaligus sebagai alat refleksi diri – sok iye dikit boleh ye. Maka, alih-alih hanya mencari judul film yang TERbaik, saya menempuh jalur pendekatan lain dan bertanya pada diri saya sendiri: “pelajaraan apa yang telah saya ambil dari pengalaman menonton film-film Indonesia di tahun 2016 lalu?” Okay, mungkin memang terdengar sedikit klise dan menggelikan. Tapi setelah saya pikirkan cukup lama, ternyata jawaban untuk pertanyaan itu cukup personal.

Tahun 2016 akan saya ingat sebagai tahun dimana kesenduan suara Tio Pakusadewo menegakkan bulu roma lewat lagu Sabda Rindu di film Surat Dari Praha. Tahun dimana, sebagai die hard fans Mili remaja dan Ada Apa dengan Cinta?, saya bisa menyaksikan Rangga dan Cinta ngobrol ngalor-ngidul di kota kelahiran saya, Jogja. Pun di tahun yang sama ini, Riri Riza memberikan saya Athirah, sebuah karakter perempuan kuat Indonesia asli, yang sadar akan kodratnya sebagai istri, namun menolak untuk terdominasi oleh suami. What a year.

Tapi bohong juga kalau disela-sela semua itu, saya terbebas dari WTF moment saat menonton film Indonesia. But no. Kita tidak akan membahas hal itu. Cukup saja saya berdoa kalau di tahun 2017 ini, kita hanya akan fokus mencaci maki belahan dada yang kian hari makin kerap di blur sana-sini di TV. Dan tak perlu memusingkan lagi apa-apa lain yang terbelah-belah, apalagi yang di seberang benua sana.

Maka, tibalah saya pada poin pembelajaran yang, setelah melalui proses pemikiran dan pengingatan ulang yang masak-masak, ternyata lumayan sering terjadi dalam pengalaman saya selama menonton film Indonesia di tahun 2016 lalu. Pernah sadar nggak sih, kalau sering kali, pengalaman menonton kita itu sedikit banyak terpengaruhi oleh pengharapan dan prasangka? Maksudnya, bahwa penilaian akhir kita akan kualitas sebuah film kerap kita kaitkan dengan bagaimana pengharapan maupun prasangka kita terhadap film tersebut sebelum kita menontonnya. Pengharapan dan prasangka, umumnya tumbuh dan dipengaruhi oleh atribut yang melekat pada satu film tertentu (genre, judul, sutradara, aktor, dll.) Kasarannya nih, pasti beda dong pengharapanmu saat kamu hendak menonton filmnya Garin Nugroho dan Nayato F. Nuala?

Ada satu kejadian yang saya ingat di bulan Oktober lalu, yang jadi awal mula tercetusnya ide untuk menulis tulisan ini. Saat itu saya datang ke media screening untuk film Catatan Dodol Calon Dokter. Setelahnya, tanpa sengaja saya bertemu dengan salah satu wartawan yang kebetulan juga adalah kawan lama saya. Saat saya tanya tanggapannya tentang film yang barusan kami tonton itu, ia menjawab, “Kurang sih menurut gue. Gue pikir komedi gitu. Ini malah banyak dramanya.” “Oh… okay” jawab saya. Jadi, hanya karena sebuah film ternyata tidak bergenre seperti yang kamu kira, maka otomatis film itu “kurang”? Terus... apresiasiumu terhadap film ini jadi menurun setelah tau konten didalamnya tidak sesuai seperti semestinya sebuah film komedi menurutmu? Gitu?! Tapi tentu saja, pertanyaan bernada ketidakpercayaan itu hanya terjadi di kepala saya. Karena setelah itu, kami langsung sibuk membahas penampilan Aurelie Moremans yang tampak jauh lebih  ramping di dunia nyata.

Sampai titik ini, misalnya pemikiran ini terbesit dalam benakmu: “Wih, pasti penulisnya bebas prasangka nih! Keren! Anaknya siapa ya kira-kira?” Well, terima kasih banyak sebelumnya, tapi sayang, bukan begitu kasusnya. Lewat tulisan ini, saya justru bermaksud untuk mengakui bahwa, untuk urusan pengapresiasian film, saya (dulunya) adalah pribadi sinis yang penuh dengan prasangka. Dan tidak ada perasaan yang lebih membebaskan (dan slightly mendewasakan), ketika kamu sudah berani mengakui bahwa apa yang selama ini kamu sangka terhadap seseorang itu salah. Kelima film di bawah ini, selain bekerja dengan amat baik dalam fungsinya sebagai media bercerita, semuanya merepresentasikan sebuah momen dimana saya mulai menyadari bahwa sering kali, terlalu memegang erat pada prasangka tidak akan membawa kita kemana-mana. Bahwa kadang, tindakan paling benar untuk dilakukan adalah untuk tidak berharap sama sekali.

 

5. Iseng

Perlu diketahui, saat menempatkan Iseng dalam daftar ini, teriring pula kesadaran yang penuh bahwa film ini memang jauh dari kata sempurna. Namun, bagi saya, Iseng merupakan kejutan terbesar di tahun 2016 yang saya harap lebih banyak orang tonton dan perhatikan. Tayang pada bulan Maret dengan jumlah layar yang amat terbatas, motivasi untuk menonton film ini sama persis seperti ketika akan menonton Hantu Cantik Kok Ngompol? Pikir saya waktu itu, siapa tau dua film ini bakal berakhir senasib dengan Azrax. Legendaris.

Hasilnya, yang satu bikin emosi karena saya merasa ditipu lantaran yang ngompol kok bukan hantunya. Dan yang satunya lagi, berakhir di daftar ini. Iseng jelas bukan film yang dibikin sekedar untuk iseng-isengan semata. Konsep besarnya bergaya sedikit Robert Altman-ish, menceritakan kisah berbeda-beda dari kehidupan sekumpulan orang yang tak saling mengenal, tapi memiliki keterkaitan – baik yang langsung maupun tidak langsung –  dengan sebuah kasus pembunuhan. Satu cerita lebih menonjol dari cerita lain. Bahkan ada cerita yang semisal dihilangkan pun tidak akan ada pengaruhnya. Tapi potensi terbesar film ini ada pada performa aktor-aktornya. Dan dari situ, film ini memberi sebuah pelajaran yang patut untuk lebih sering dicoba oleh film-film dengan skala produksi lebih besar.

Sebagai film multikarakter, banyak nama aktor tersohor yang tergabung disini: Tio Pakusadewo, Donny Damara, Donny Alamsyah, Wulan Guritno, Fauzi Baadila, Ayushita. Namun, pencuri perhatian justru dilakukan oleh aktor-aktor yang relatif belum punya nama. Fany Vanya tampil begitu membumi sebagai Dian, tipikal gadis-desa-pergi-ke-kota-terjerumus-jadi-PSK. Hubungan dan interaksi antara Dian dan kerabatnya yang sudah duluan menjadi pekerja seks dan kini berlaku sebagai mentor untuknya, terlihat amat organik dan memiliki kualitas realisme yang kuat. Kemudian ada Kho Michael, yang menjadikan karakter pelayan café yang tak bisa menahan untuk tidak bermasturbasi tampak begitu creepy. Dayu Wijanto, sang character actor yang selalu bisa diandalkan, tampil tak kalah impresif sebagai si pemilik café. Aktor-aktor ini memberikan kompleksitas dan kedalaman pada tokoh yang secara durasi tidak mempunyai porsi banyak.

Ada alasan kenapa Reza Rahadian tampil dalam lima judul film high profile di tahun 2016. Pertama, karena dia Reza Rahadian. Kedua, karena produser mau main aman. Potensi dan kualitas akting yang terpampang dalam Iseng ini, adalah sebuah pengingat, bahwa mungkin kini sudah saatnya para produser dan casting director untuk mencoba lebih sering mempercayakan peran-peran penting untuk dimainkan oleh aktor-aktor berbakat non-selebritis.

 

4. Shy Shy Cat

Pengakuan: dulu, saya bukanlah fans terberat Acha Septriasa. Dibilang fans biasa pun juga tak bisa. Bahkan, saya termasuk golongan yang sudah males duluan kalau tau film yang akan saya tonton ada Acha-nya. Di benak saya, dalam hal kemampuan berakting, Acha itu ekuivalennya Raffi Ahmad (I know, it’s cruel. I’m such a hater). Prasangka ini, bahkan membuat saya menutup mata pada fakta bahwa ia pernah tampil brilian dalam Testpack empat tahun lalu. And she even won the dang Citra for that movie!

Singkat cerita, sikap keras saya pada Acha ini akan segera leleh berkat Sabtu Bersama Bapak. Terutama saat scene emosionalnya menjelang akhir film bersama Arifin Putra. Saat itu, somehow, saya membiarkan otak saya memproses adegan itu tanpa sedikit pun prasangka. Dan hasilnya, yang ternyata saya lihat di layar adalah, penampilan seorang aktris yang skill-nya terasah berkat kontrol yang terjaga. Ia intuitif, tapi di saat yang sama juga berpresisi tinggi. Setelah scene itu berakhir, saya mendapati diri saya sendiri berbisik lirih, “Shit, I think I’m starting to like her.”

Dan benar saja, sekitar dua bulan berselang, rilislah Shy Shy Cat. Film yang, seperti judulnya sendiri indikasikan, cetek, alay dan nakal, but all in a good way. I had the best time during this movie, more than any Indonesian movie in 2016. Setelah Catatan Dodol Calon Dokter kemudian film ini, saya sungguh berharap tahun 2017 akan jadi tahun dimana Tika Bravani akhirnya mengambil alih posisi sebagai leading lady paling jaya. Film yang bisa saja diganti judulnya jadi Monty Tiwa’s Angels ini mengumpulkan hampir semua aktris-aktris favorit Tiwa, dari Titi Kamal hingga Poppy Sovia. Shy Shy Cat tampilkan sekumpulan wanita lucu yang sedang bersenang-senang, tanpa satu sama lainnya harus saling menjatuhkan. Dan tentu saja, gelar MVP dalam film ini dipegang oleh Acha, si bomb yang selalu tampil meyakinkan di tiap momen, bahkan ketika ia berakting sebagai setan yang tak meyakinkan. She’s a national treasure. Para produser film diluar sana, siapapun, jangan biarkan Acha pensiun!

 

3. Cek Toko Sebelah

Adisi di menit-menit akhir sebelum tulisan ini dipublikasikan. Cek Toko Sebelah adalah penutup tahun yang menyenangkan dalam kalender perfilman Indonesia 2016, sekaligus penanda telah datangnya sineas generasi baru yang patut diawasi tindak-tanduknya. Sama-sama memiliki latar belakang sebagai komika, melalui film ini Ernest Prakasa tampil utuh dengan segala kesiapan yang ia bawa, dan tak lantas hanya melenggang di hutan yang sebelumnya telah dibabat oleh Raditya Dika.

Kesadaran saya soal prasangka, tak mungkin hadir sebelum saya sepenuhnya memahami bahwa sosok seniman dibalik proses kreatif sebuah film – baik sutradara, penulis, maupun pelakon – adalah pribadi yang fluid. Mereka bisa berkembang, tapi tak menutup kemungkinan juga mengalami kemunduran. Bahwa, mau seculun apa pun performa seorang aktor dulunya, atau sekonyol apa pun tulisan naskahnya, bukan tidak mungkin di kemudian hari ia akan bangkit dan merubah pandangan miring para golongan sinis. Fakta sesederhana ini, jujur, baru bisa sepenuhnya saya resapi dan aktualisasikan pemahamannya dalam praktik apresiasi film, di tahun 2016 lalu.

Film karya Dika, Hangout, mulai tayang satu minggu sebelum Cek Toko Sebelah mulai beredar di bioskop. Lebih lanjut tentang Cek Toko Sebelah, bisa dibaca di ulasan AnakNonton disini. Sedangkan untuk Hangout, whodunit komedi yang dibintangi oleh “artis” terkenal yang memerankan versi fiksi dari diri mereka sendiri, harus diakui merupakan sebuah pencapaian yang tak kalah solid. Pengakuan selanjutnya: ini baru film kedua Dika yang saya tonton di bioskop. Karena sejak Kambing Jantan hingga Single, yang semuanya saya tonton saat ditayangkan di televisi, saya tidak pernah merasa kalau karyanya menawarkan sesuatu yang berbeda. Namun, setelah Koala Kumal yang tayang Juli lalu, film ini jelas menunjukkan banyak sekali kemajuan. Dika tampak lebih bersenang-senang, tapi di saat yang sama ia menunjukkan kedewasaan pengarahannya dan tak pernah lepas fokus pada apa yang mau ia sampaikan. Intinya, meskipun komika identik dengan “hanya sekedar bercanda,” tapi karya mereka jelas tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

 

2. Ada Cinta di SMA

High school movie adalah sub genre yang hilang di perfilman Indonesia. Keberadaannya sih selalu ada. Hanya saja, sebagian besar pembuatnya lebih tertarik untuk menangkap romantikanya saja. Jarang sekali ada yang mau mencurahkan tenaga lebih untuk menampilkan situasi SMA yang otentik dan apa adanya. Having said that, bukan berarti Ada Cinta di SMA telah sepenuhnya memotret rupa, suasana, maupun aroma dari sekolah yang kata orang adalah masa-masa paling bahagia. Tapi film ini adalah film pertama setelah sekian lama, yang bisa bikin saya percaya kalau yang sedang saya lihat di layar adalah benar-benar anak SMA.

Mudah sekali untuk menyepelekan film ini sebelum menontonnya: cerita tentang cinta-cintaan anak SMA, yang dibintangi para personel boyband cilik yang beranjak remaja. Tapi sungguh, film ini charming di segala aspeknya. Naskahnya tak merendahkan karakter-karakter di dalamnya. Segala keklisean yang ada pun jadi mainan untuk para aktor untuk menghadirkan berbagai momen manis. Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan dan Caitlin Halderman pun menjelma jadi pasangan layar perak yang paling enak disimak. Jarang-jarang lho ada film dimana karakternya tiba-tiba bernyanyi saat sedang asik-asiknya nangis, dan tidak membuat kita ingin memalingkan muka karena hanya dengan melihatnya saja bikin malu.

 

1. Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara

Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara adalah film yang memberikan saya pengalaman menonton paling rewarding di tahun 2016. Awalnya, film ini saya masukkan dalam folder “film reliji menggurui.” Alias, tipe film yang paling mudah bikin eye-rolling. Apalagi beberapa bulan sebelum tayang, film ini sempat jadi bahan cemoohan di Twitter karena salah mengeja nama Lydia Kandou di poster. Di tambah lagi, sesaat setelah saya menginjakkan kaki di acara gala premiere-nya, yang saya jumpai pertama adalah lautan ibu-ibu berhijab bak rombongan majelis taklim. Kontan saja, seketika makin tambah drop niatan untuk meneruskan langkah kaki, maklum, masih trauma pasca nonton Surga Menanti. Lalu, mau berharap apa lagi dari film seperti ini?

*Fast-forward dua jam setelahnya

Ya Tuhan, bagus sekali ya film ini.

Sensasi menonton film ini, rasanya seperti mendapat uluran pertolongan dari orang yang paling kamu benci. Rasanya malu sama diri sendiri, sekaligus terenyuh berkat kebaikan yang diterima. Sebagai film reliji, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara berhasil menunaikan misinya justru karena ia tak pernah memperlihatkan tokoh utamanya, Aisyah (Laudya Chintya Bella, amazing, outstanding, sparkling, bening, bikin pening), tengah berlama-lama menjalankan praktik ibadah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa film ini memiliki pemahaman yang utuh, bahwa yang tak kalah penting dari hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, adalah hubungan horizontal antar sesama manusia. Sebuah poin penting yang kerap luput dieksplorasi oleh film-film reliji modern Indonesia.

Dengan fotografi cantik yang didominasi warna kuning menyengat untuk menampilkan gersangnya bentang alam Timor Tengah Utara, film ini tidak pernah salah langkah dengan mendeklarasikan dirinya sebagai film yang beragama Islam. Tidak ada keberpihakan bahwa agama satu lebih baik dari yang lainnya. Pun saat terjadi konflik yang melibatkan seorang murid pemberontak, itu terjadi lebih karena faktor historis keluarganya. Muatan pesan toleransi yang terkandung dalam skenario pemenang Piala Citra 2016 garapan Jujur Prananto ini universal dan dihantarkan dengan penuh kelembutan. Kemuakan seperti saat diceramahi oleh penceramah yang ngotot dan meledak-ledak dijamin tidak akan dirasakan sepanjang film. Berkat hal itu, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara tak hanya pantas diganjar sebagai film terbaik saja, melainkan juga terpenting 2016.