Menu

5 Film Pilihan AnakNonton untuk Menghabiskan Valentine's Day

Hari Valentine, adalah sebuah hari di setiap tahunnya dimana akan ada dua hal yang pasti terjadi: orang yang memusingkan merayakan dengan siapa dan sekumpulan orang kurang kerjaan yang tak ada lelahnya mempertanyakan ke-halal-annya. Wajarnya sih, bagi orang-orang berpasangan yang cukup peduli dengan seremonial macam ini, Valentine dirayakan dengan melakukan hal-hal yang sifatnya simbolis atas pembuktian rasa cinta, seperti memberi coklat, bunga atau bertukar hadiah. Admin sih, sejujurnya, tidak peduli-peduli amat akan perayaan-perayaan semacam ini. Namun tidak ada salahnya, buat AnakNonton yang telah berpasangan atau on the way berpasangan, mencoba hal baru dengan mengisi waktu di Hari Kasih Sayang ini dengan mengajak si dia menonton film-film bertema, tentu saja, kasih sayang.

Dengan asumsi bahwa film-film wajib macam Ada Apa Dengan Cinta?, Titanic, Kuch Kuch Hota Hai, Serendipity ataupun The Notebook pasti sudah AnakNonton lahap, dibawah ini kami pilihkan lima film yang tak boleh dilewatkan untuk mempermanis kebersamaan dengan pasangan, atau sebagai intro maupun latar suara dalam melancarkan aksi yang lebih ‘dalam’.

 

5. Natural Born Killers

Meneruskan daftar film-film bertema ‘us against the world’ macam Bonny & Clyde, Wild at Heart dan Harold and Maude, Natural Born Killer tampil dengan pendekatan yang lebih ekstrim dengan bubuhan unsur kekerasan yang berkali-kali lipat. Mickey (Woody Harrelson) dan Mallory (Juliette Lewis) adalah sepasang pembunuh yang melakukan aksi pembunuhan berantai di berbagai daerah di Amerika dan memastikan bahwa semua orang tau nama mereka. Oliver Stone banyak bermain dengan style dalam film ini, memakai gaya sit-com dalam satu scene kemudian menggunakan efek monokrom pada scene lainnya. Dua tokoh ini digambarkan sebagai orang-orang amoral dan tidak memiliki sisi kemanusiaan, begitu pula dunia yang mereka tinggali: kacau dan berputar tanpa poros. Mallory menganggap Mickey telah menyelamatkan hidupnya, dan Mickey tak bisa hidup bila tak bersama Mallory. Kesetiaan dan cinta mereka diuji dalam berbagai adegan penuh darah namun memiliki kesadaran sosial politik yang kental. Tonton film ini bersama pasangan sebagai inspirasi untuk melakukan hal yang lebih adventurous.

 

4. Four Wedding and a Funeral

Berkisah tentang sekumpulan teman, yang memasuki usia dimana mereka mulai mendapat banyak undangan pernikahan baik dari kerabat dekat maupun teman nunggu jemputan pulang saat kelas 1 SD. Four Wedding and a Funeral adalah sebuah komedi menyenangkan yang mengulik tentang bagaimana orang-orang berperilaku dalam sebuah event sosial. Kalau film ini dibuat pada tahun 2016, karakter-karakter di dalamnya pasti akan mem-posting foto di Path atau Instagram dengan caption “Kondangan terus, kapan dikondangin?” Eww, menggelikan.

Salah satu diantaranya bernama Charles (Hugh Grant); santun, pemalu dan teman baik semua orang. Di pesta pernikahan pertama, ia berkenalan dengan seorang wanita Amerika bernama Carrie (Andie McDowell). Perkenalan ini jadi gerbang pertemanan bagi keduanya, dan berlanjut pada event pernikahan yang ke-2. Entah karena dipengaruhi oleh budaya atau tidak, Charles terlalu segan dan malu untuk dengan lantang dan tegas mengutarakan apa yang sebenarnya dia rasa dan Carrie harus selalu jadi pihak yang agresif. Dan sementara Carrie dan Charles sibuk main tarik ulur, penonton dikenalkan dengan berbagai karakter lain di sekitar mereka. Layaknya datang ke sebuah hajatan nikah, kita bertemu dengan banyak orang, dikenalkan oleh teman, saling bertukar nama, kemudian kita lupa namanya, dan tak lama bertemu lagi.

Meskipun sesak oleh banyak karakter, Mike Newell menemukan cara agar Four Weddings and a Funeral tetap memiliki momen-momen privat yang manis untuk masing-masing karakternya. Sebagai karakter sentral, Charles dan Carrie merupakan dua pribadi yang amat bertolak belakang dan menarik untuk ditonton. Charles adalah tipe pria yang canggung dan charming di saat yang bersamaan, dan dengan pesona itu mampu membuat penonton percaya dan paham kenapa banyak wanita menyukainya. Sedangkan Carrie, meskipun bersifat terbuka, suka berkata apa adanya dan “lebih Amerika”, menarik untuk diamati ketika kita sadar bahwa ia jatuh cinta pada seseorang yang bisa membuatnya berkata apa saja, namun terjebak dalam sebuah pertunangan dengan orang yang harus dia bohongi setiap saat.

 

3. Say Anything

Dia adalah salah satu murid terpintar di angkatannya. Dia tidak banyak berkencan karena kepintarannya mengintimidasi pria-pria. Dan karena kepintarannya itu, tentu saja tak seorang pun memandangnya sebagai ‘the pretty girl’. Tak seorang pun kecuali Lloyd. Lloyd (John Cussack) adalah seorang anak aneh yang terobsesi dengan kick-boxing dan menyukai gadis itu sepenuhnya karena otaknya. Lloyd mengajak si gadis bernama Diane (Ione Skye) itu untuk berkencan, namun ia menolak. Ia gigih dan mengajaknya lagi, ia berkata iya. Diane sadar kalau Lloyd tidak punya prospek karier dan masa depan yang cemerlang, namun ia yakin bahwa Lloyd bisa dipercaya dan diandalkan.

Kejujuran adalah jantung dari film ini. Namun ketidakjujuran juga ada di dalamnya. Dalam Say Anything, Diane bisa berkata dan cerita tentang apa saja pada ayahnya. Indah sekali penggambaran hubungan ayah-anak di film ini. Selain rasa cinta, sang ayah juga respect pada anak perempuannya. Dia adalah tipe orang tua yang peduli, memberikan kepercayaan pada anaknya, dan tak pernah ragu melakukan apa pun demi kebaikan anaknya. Namun sang ayah memiliki sebuah rahasia yang akan menggiring penonton menuju keindahan terbesar dari inti muatan film ini.

Say Anything memperlakukan dua hubungan yang dimiliki Diane (dengan Lloyd dan ayahnya) dengan porsi dan keseriusan yang berimbang. Semua karakter dalam film ini sama-sama kompleks, punya masalahnya masing-masing, dan memiliki niat untuk menyelesaikannya dan membuat hidup mereka jadi lebih baik. Romansa yang terjalin antara Diane dan Lloyd dipenuhi dengan insight dan obrolan yang cerdas. Mereka tertarik satu sama lain bukan hanya karena mereka atraktif, namun juga karena mereka adalah individu yang menarik. Mereka sadar bahwa mereka bisa belajar dan mendapatkan sesuatu yang berguna dari satu sama lain. Dan yang terpenting adalah, bahwa film ini menganggap karakter remaja sebagai seseorang yang utuh dan nyata, lengkap dengan opini dan pola pikir logis.

Say Anything adalah film yang langka, karena, meskipun tidak memiliki ‘pelajaran’ ataupun ‘pesan moral’, seusai menonton film ini kita bisa belajar sesuatu tentang kehidupan. Dan lebih ajaibnya, bahwa film semacam itu datang dalam bentuk sebuah film drama romance yang tak hanya pintar, lucu tapi juga menghibur.

 

2. Once

Film ini lebih banyak bertutur melalui lagu ketimbang dialog. Bahkan dua karakter utamanya tidak memiliki nama. Namun Once adalah film yang memikat dari awal sampai akhir. Berkisah tentang si tokoh pria atau the Guy (Glen Hansard), musisi jalanan yang bertemu dengan si tokoh wanita atau the Girl (Marketa Irglova) saat ia mengamen di sebuah jalan di Dublin. The Girl, yang juga seorang pianis, menyukai musik yang dimainkan the Guy. The Guy ingin mendengarkan the Girl bermain piano, namun karena keduanya tidak memiliki piano, mereka memutuskan untuk menyambangi sebuah toko musik. Dan disana lah, salah satu momen romance berbalut musikal terbaik dalam sejarah sinema terjadi.

Lewat scene yang di-shot secara minimalis dan sederhana itu, kita tau bahwa mereka langsung saling jatuh cinta. Kecintaan mereka terhadap musik juga terpancar tak kalah besarnya. Salah satu alasan kenapa scene ini (dan keseluruhan film) bekerja begitu apiknya, adalah karena kedua tokohnya terasa begitu nyata. Apa yang terjadi pada keduanya pun memberikan sense bahwa hal itu amat mungkin bisa terjadi pada siapa saja.

Perkembangan cerita film terjadi beriringan dengan lagu-lagu yang muncul. Hubungan keduanya berlanjut: The girl mengajak the guy untuk bertemu ibunya, dan the guy kemudian mengetahui bahwa the girl telah bersuami. The guy mengajak the girl bertemu ayahnya, dan the girl mengamati bagaimana interaksi dan hubungan keduanya. Sangat sederhana, otentik dan organik. Dalam sebuah scene yang akan terasa lebih dalam saat makin sering ditonton, the Guy menanyakan apakah the Girl masih mencintai suaminya. The girl menjawab dengan bahasa Cheko, tanpa disertai kemunculan subtitle.

 

1. The American President

Film arahan Rob Reiner ini, mampu melakukan tiga hal sulit dalam satu waktu sekaligus: membuat kisah cinta yang mengena, komedi yang menghibur, dan sebuah film cerdas tentang politik. Ketiga hal itu menyatu dengan padunya dengan penampilan memikat dari Michael Douglas dan Annette Bening. The American President adalah film yang sangat cocok disaksikan saat Valentine, karena kisah cinta yang digambarkan begitu hangat dan dewasa, dengan tindakan tiap karakternya yang membuat kita percaya.

Dikisahkan, Presiden Amerika Serikat, Andrew Shepherd (Michael Douglas) telah menduda selama beberapa tahun. Suatu hari, ia bertemu seorang environmental lobbyist, baru saja tiba dari Washington, bernama Sydney Ellen Wade (Annette Bening). Shepherd merasa, ada sambaran yang kuat ketika pertama kali ia meletakkan pandangannya pada Wade, dan salah satu staffnya menyarankannya untuk mengajak Wade sebagai pendampingnya dalam sebuah acara kenegaraan. Ia pun menyetujui ide tersebut. Saksikan bagaimana Douglas dan Bening memainkan salah satu adegan komedik paling berkesan di film ini, saat Wade tidak percaya bahwa seorang presiden dari sebuah negara adidaya menelponnya. Dan banyak lagi momen-momen lucu di film ini yang kebanyakan tercipta ketika presiden mencoba untuk melakukan hal-hal sederhana yang orang ‘biasa’ lakukan.

Apa yang ditampilkan Bening dan Douglas adalah kualitas-kualitas yang seharusnya dimiliki oleh semua pemain film drama romance. Sebagai tokoh pria dalam film romance, terlebih lagi sebagai tokoh presiden yang kerap disimplifikasi oleh kebanyakan film Hollywood, Douglas membuat tokoh Shepherd menjadi lebih tiga dimensional: approachable, rapuh dan simpatik. Sedangkan Bening, salah satu aktris terbaik di generasinya, memiliki senyum yang, sadar atau tidak, akan membuat penontonnya ingin tersenyum balik.